Artikel
Ust. Drs. Sodikin, M.Pd.
Menumbuhkan Motivasi Berprestasi
Oleh : Drs. Sodikin, M.Pd.
(Direktur Lembaga Pendidikan Al Falah)
Salah satu wali murid menyampaikan kegembiraannya kepada saya ketika melihat putranya ada peningkatan prestasi di kelas 8 SMP, sebelumnya putra ibu ini prestasinya biasa saja, namun setelah mengikuti salah satu ekstrakurikuler ada perubahan drastis pada anak ke duanya tersebut. “Sejak mengikuti ekstrakurikuler Basket Ustad, Hilmi eksis di group basketnya dan mendapat pengakuan di teman-temnaya, sejak itulah dia percaya diri dapat berprestasi,” kata ibu Hilmi dengan semangat. “Dampaknya Ustad di prestasi akademisnya saya lihat hasil ulangannya kemarin bagus-bagus.” Imbuh wali murid yang semua anaknya dipercayakan pendidikannya di sekolah Al Falah. Ketika memantau perkembangan prestasi siswa tersebut, wali kelas mendapati nilai rata-rata Unas Hilmi di atas 9, suatu prestasi yang menggembirakan.
Melihat cerita Hilmi ini banyak orang mengaitkan dengan motivasi, dimungkinkan siswa ini termotivasi untuk berprestasi terus setelah memiliki rasa kemampuan diri atau percaya diri untuk mampu berprestasi. Pertama dia mendapat pengakuan dan dukungan teman-temannya karena prestasinya di basket, selanjutnya dalam dirinya tumbuh kepercayaan bahwa dirinya mampu untuk sukses dan punya prestasi, hal ini membawa pengaruh positif di bidang lainnya termasuk di mata pelajaran. Terhadap kasus ini Albert Bandura dalam Hergenhahn and Matthew H. Olson(2008) mengulasnya dengan istilah perceived self efficacy(anggapan tentang kecakapan diri) dan real self efficacy(kecakapan diri yang sesungguhnya, seseorang yang menganggap tingkat kecakapan dirinya cukup tinggi akan berusaha lebih keras, berprestasi lebih banyak, dan lebih gigih dalam menjalankan tugas ketimbang yang menganggap kecakapan dirinya rendah. Anggapan kecakapan diri Hilmi sesuai dengan kecakapan diri sesungguhnyanya, sehingga anak ini dapat meningkatkan prestasinya.
Drs. Jidi, M.Si.
Motivasi Baru bagi Guru
Oleh : Drs. Jidi, M.Si.
(Sekdir dan Humas Lembaga Pendidikan Al Falah)
Kita yang punya perhatian terhadap pendidikan harus terkejut berkali-kali. Penyebabnya bisa tawuran pelajar yang kian marak, makin santernya berita keterlibatan anak usia sekolah dalam tindak kejahatan, pencemaran buku pelajaran oleh pornografi, hingga tindak kekerasan terhadap pelajar yang tak jarang menelan korban. Kini ada lagi penyebab keterkejutan yang tak kalah menghentak, yaitu sebuah data yang menunjukkan bahwa status guru yang terlanjur dicetak tebal dalam sertifikat sebagai pendidik profesional, ternyata hasil uji kompetensi (UKG)-nya masih jauh dari syarat minimal kelulusan, sebesar 70.
Di Jawa Timur misalnya, nilai rata-rata UKG TK 46,53, SD 43,83, SMP 54,21, SMA 54,14, sementara untuk nasional hanya 44,5 (Jawa Pos, 14 Agustus 2012). Terlepas apakah soal-soal UKG benar-benar relevan dan valid dalam mengukur kompetensi guru yang sebenarnya serta akomodatif terhadap berbagai disparitas kondisi yang ada secara nasional. Yang jelas, data hasil sementara UKG itu cukup menggoda untuk menstigmasi bahwa sebagian besar guru yang telah menerima tunjangan profesional pendidik (TPP) dari negara ternyata belum memenuhi syarat profesionalnya.




