Biblioterapi dengan Al Quran

Defi Aryani Ega W.S, S.Psi

Defi Aryani

Oleh : Defi Aryani, S.Psi (Guru BK SMP Al Falah)

Setiap hari kita tidak pernah lepas dari aktivitas membaca. Membaca mengajarkan kita banyak hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Dalam Al-qur’an ayat yang pertama kali turun berisikan perintah membaca “Bacalah dengan nama Tuhan yang menjadikan”. Tentunya kita semua tahu itu. Perintah pertama saat wahyu itu turun yaitu “membaca”. Lantas masih adakah keinginan untuk tidak membaca hari ini? Aktivitas ini sangat mudah dan tanpa memerlukan banyak energi. Hanya konsentrasi dan keinginan yang membuat aktivitas ini menjadi nyata.

Membaca masuk dalam ranah terapi yang sangat berpengaruh bagi pembaca. Pernahkah Anda mendengar kata biblioterapi? Biblioterapi merupakan salah satu cara terapi yang digunakan dengan media buku sebagai terapi. Mungkin beberapa dari kita berpikir haruskah terapis yang melakukannya? Sebagian memang membutuhkan arahan terapi. Tapi tujuan dari biblioterapi tentu saja berhak diketahui semua orang. Siapapun dari diri kita bisa menjalankan terapi ini di rumah. Tujuannya dengan gemar membaca menjadikan kita lebih baik dari sebelum kita membaca.

Apakah ada pengaruh setelah dan sebelum kita membaca? Jelas ada pengaruhnya. Perlu bukti? Buktikan saja dengan sehari kita bisa mengkhatamkan satu juz Al-Qur’an. Apa yang terjadi? Bukti itu akan nyata bila sebagian dari diri kita berusaha untuk melaksanakannya. Bukti lain adalah kita bisa istiqomah dengan waktu yang diberikan Allah pada kita. Salah satu caranya yaitu dengan membaca, karena dengan kita membaca otomatis kita bisa memaksimalkan waktu yang berharga dengan hal yang positif.

Biblioterapi merupakan jenis terapi yang menggunakan literatur seperti buku atau karya sastra yang tujuannya membantu seseorang mengatasi masalah kesehatan mental yang dialaminya. Terapi dengan membaca ini biasanya digunakan untuk menyembuhkan penderita stres, depresi dan kegelisahan. Terapi ini akan efektif bila kita yakin dengan buku yang kita baca akan berpengaruh positif buat kita. Tentu harusnya kita memilih dan memilah buku mana buku yang baik dan mana buku yang diras kurang baik. Pastinya semua buku pasti mempunyai motivasi yang berbeda-beda. Alangkah lebih baik jika di dalam buku terkandung makna yang memotivasi pembacanya. Kita sebagai umat Islam punya buku panduan yang selalu kita amalkan. Buku itu adalah Alqur’an. Di dalam Al-qur’an memuat aqidah, akhlak, sejarah,hukum , peringatan, motivasi, alam semesta dan seisinya. Saat membaca baiknya kita pahami dan terjemahkan isi bacaannya. Yang terjadi kita akan lebih termotivasi dengan bacaan-bacaan tersebut.

Memahami Al qur’an menjadi tugas kita bersama. Bukan hanya para guru, akan tetapi semua lini termasuk keluarga juga memegang peranan dalam pencapaian akhlak yang berprestasi bagi siswa. Biblioterapi mulai diaplikasikan oleh penulis pada beberapa siswa. Kala itu pelajaran BK bertema “Gemar baca luaskan cita-cita”. Dimulailah dengan memberikan mereka arahan kebutuhan kita terhadap membaca itu sendiri. Penulis mengajak mereka berkunjung ke perpustakaan. Waktu dibatasi 10 menit yang mengharuskan mereka meminjam buku. Siswa memulai dengan meminjam beberapa buku. Kali ini siswa diarahkan memilih buku religi dan serial motivasi. Beberapa siswa memilih serial motivasi dan selebihnya novel islami. Dari mereka mulai membentuk kelompok. Tiap siswa membaca dan mengaplikasikannya dengan diskusi dan konseling dengan teman sebayanya.

Proses biblioterapi ini tidak langsung diaplikasikan dengan membaca Al-Qur’an. Akan tetapi mencari bacaan yang bernafaskan ruh Al-Qur’an itu sendiri. Salah satu contoh : Siswa mengambil salah satu buku bacaan dengan judul “Ranah Tiga Warna” karangan Alif Fuadi. Kenapa kamu memilih buku ini nak? Pertanyaan saya kepada siswa yang biasa menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Karena Novel ini saya jadi mengerti apa yang dinamakan sabar dan bagaimana proses mencapai kesuksesan dengan kesabaran, jawabnya tegas dan pasti.

Masing-masing kelompok berdiskusi dengan apa yang sudah mereka baca di dalam buku tersebut. Selama seminggu mereka menghabiskan halaman mana saja yang disepakati saat pembagian membaca. Pada waktu presentasi satu persatu dari mereka menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Dari aktivitas membaca tersebut satu sama lain saling memotivasi temannya. Mereka menemukan dalil dalil Al Qur’an yang selama ini sudah mereka terapkan. Antusiasnya mereka mancari lagi ayat-ayat lainnya. Misalnya : “Man Jadda Wa Jadda : Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, Man Shabara Zhafira: Siapa yang bersabar akan beruntung, Man Yazra Yahsud : Siapa yang menanam akan menuai apa yang ditanam”

Proses biblioterapi ini akan menuai hal yang positif apabila bisa dilakukan dengan istiqomah, kemauan kesabaran dan target. Anak-anak ibarat kertas putih dan kita layak menuliskan paragraf yang indah untuknya.