Ibu Adalah Pahlawan Sebenarnya

21-mustaanu

Al Musta’anu

“Tidak jarang orang memandang sebelah mata kepadamu, tidak banyak yang mengetahui tangismu di malam yang kelam, tidak seorangpun bertanya apa yang engkau pinta dalam sujud panjangmu. Di senyummu ada arti sebuah kesabaran, di tatapan matamu ada doa yang menyejukkan hati kami, dari belaian kasih sayangmu ada doa untuk kebahagiaan kami. Dan di bawah telapak kakimu surga bersemayam. Engkaulah pahlawan kami, ibu.”

Pahlawan menurut bahasa sansekerta (phala-wan) berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama. Berangkat dari pengertian di atas, pahlawan adalah manusia yang memiliki tiga karakter, yaitu memiliki keberanian, rela berkorban dan membela kebenaran. Semua karakter dasar itu berada dalam diri perempuan dengan sebutan ibu.

Pertama, keberanian. Sikap berani berarti pantang menyerah, sekalipun aral melintang yang di hadapi cukup berat, namun orang yang memiliki keberanian akan selalu berpikir mencari solusi bagi setiap masalah dan selalu bangkit agar kegagalan tidak terulang untuk kesekian kalinya. Seorang ibu memiliki kesadaran terhadap perilaku dan dapat menimbang baik-buruknya sikap yang dilakukannya. Teringat ketika saya masih kecil ibu sering memanggil para pengemis untuk makan di rumah dan memberi mereka pakaian yang layak, bagiku itu hal yang tidak bisa dimengerti. Aku menanyakannya, “Ibu kenapa engkau senang memberi mereka makanan dan pakaian kepada para pengemis sedangkan ibu tidak mengenal mereka?” Ibu menjawab dengan singkat namun aku tidak bisa melupakannya hingga saat ini, “Ibu melakukannya untukmu anakku, satu harapan ibu agar ketika ibu menolong orang lain, suatu saat akan ada orang yang menolongmu ketika engkau sedang kesulitan, walaupun tidak ada orang yang mengenalmu.” Dalam perilakunya ibu tidak memaksa anak untuk melakukan hal baik, namun mencontohkannya.

Kedua, rela berkorban. Rela berkorban dalam kehidupan berarti bersedia dengan ikhlas memberikan tenaga harta atau pemikiran untuk kepentingan orang lain maupun masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri. Seorang pahlawan dengan ikhlas memberikan tenaga, harta dan pemikiran untuk kepentingan bangsa dan negara. Indikasi sikap rela berkorban dapat ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sikap membantu dengan ikhlas. Bekerja banting tulang, mengajarkan dan membimbing pada arah yang benar dan diridhai Allah tanpa pamrih sedikitpun kepada anak. Sikap empati terbesar adalah sikap empati yang dimiliki seorang ibu. Ibu  tidak akan makan sebelum anak-anaknya makan terlebih dahulu, sekalipun pada akhirnya ibu tidak kebagian karena habis dimakan oleh anak-anaknya. Namun hal itu tidak menjadikannya sedih.

Ketiga, membela kebenaran. Salah satu contohnya adalah membela keadilan. Suatu  sikap yang tidak memihak kepada sesuatu yang telah diketahui salah. Seorang ibu selalu berbuat adil, adil bukan dalam arti sama rata tetapi adil bermakna proporsional.  Seperti dalam memberikan kasih sayangnya ibu tidak akan membedakan antara anak sulung, anak tengah, ataupun anak bungsu, karena setiap anak memiliki kebutuhan dan masalah sendiri-sendiri.

Ibu adalah orangtua perempuan, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Ibu memiliki peranan sangat penting dalam membesarkan anak, sehingga ibu mendapatkan perhatian untuk selalu dihormati. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, “Seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata,”Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi menjawab,”Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab,”Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi,” Nabi menjawab, “Kemudian ayahmu.”

Ibu adalah sosok perempuan yang tak pernah lelah, tak pernah bosan, tak pernah berhenti, terus mencurahkan cintanya kepada sang buah hati. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, seorang ibu akan bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik untuk anaknya. Saat anak masih kecil, ibu rela bangun di malam hari untuk mengganti popok bayinya yang basah dengan kencing, rela begadang saat balitanya sakit panas dan rewel tidak bisa tidur, mendampingi buah hati yang mulai aktif merangkak ke sana ke mari dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta mengajarkan anaknya untuk lancar berbicara, mulai mengenal huruf-huruf Hijaiyah dan huruf Latin.

Memasuki usia sekolah, perjuangan seorang ibu di medan lain pun telah menanti. Hari-hari pertama anak memasuki dunia barunya di sekolah, bagi sebagian anak mungkin tidak menjadi masalah, dalam waktu yang cepat bisa langsung beradaptasi dengan teman dan gurunya. Tapi sebagian anak, masa awal adaptasi menjadi masa yang cukup menegangkan, adakah dirinya akan selalu aman, jika aku jauh dari ibu. Dalam kondisi anak seperti ini, tentu bagi ibu butuh kesabaran untuk meyakinkan dan mendampingi anak, sampai anak siap lepas dari dirinya.

Di zaman Rasulullah, saat seorang ibu dengan dua anaknya telah menerima sedekah sebutir kurma, dibelahlah kurma tersebut menjadi dua bagian, kemudian diberikan kepada dua anaknya masing-masing satu bagian, sementara sang ibu tidak mendapatkan secuil pun. Tapi si ibu bahagia karena telah membahagiakan anaknya. Kebahagiaan anak, akan menjadi kebahagiaan dirinya. Cintanya tak pernah pupus, kasih sayangnya tak pernah lekang, perjuangannya tak kenal lelah, doanya tak henti dipanjatkan, demi kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. Menjadi semakin mudah bagi kita untuk memahami mengapa Rasulullah menyampaikan bahwa “al jannatu tahta aqdamil ummahat” surga ada di bawah telapak kaki ibu.

Hidup akan sangat hampa bila tidak mendapatkan belaian ibu, belaian yang dapat menurunkan tensi darah saat marah, belaian yang dapat menenangkan pikiran dikala stres. Ibu akan berusaha melakukan apapun untuk menyelamatkan dan melindungi anaknya. Apabila ada seorang ibu yang marah-marah kepada anaknya mungkin hanya ungkapan kekecewaan sesaat, namun yakinlah bahwa jauh di lubuk hatinya, ibu sangat sayang anaknya dan kemarahannya adalah nasehat untuk kebaikan yang belum kita pahami.

Kasih sayang ibu sudah dilakukan melalui perjuangan yang hebat, perjuangan yang dilakukan untuk melindungi, menjaga, merawat, memperhatikan serta menyayangi ketika masih berada dalam kandungan. Tak terperikan berapa kali beliau menarik napas panjang ketika (janin) menendang-nendang perutnya dan perjuangan melahirkan buah hatinya ke dunia dengan mengabaikan rasa sakit yang tiada tara.

Sudah selayaknya kita berbakti kepada Ibu, bahkan wajib hukumnya. Tidak ada anak yang berhasil menjalani hidupnya dengan mulus tanpa peran seorang ibu. Peran beliau lebih hebat dan lebih berani dibandingkan semua tokoh yang pernah kita kenal. Oleh karena itu, jika ada pertanyaan siapa pahlawan tanpa tanda jasa? Maka jawaban sebenarnya adalah ibu, karena hanya beliau dengan segenap hidupnya berjuang agar anaknya bisa selamat terlahir ke dunia fana ini dan siap dengan segenap jiwa raganya berkorban untuk melindungi anaknya dari apapun yang dapat mencelakainya.

Semoga kita pandai bersyukur, memberikan yang terbaik untuk ibu, meski kita sadar, jasa ibu tidak akan pernah dapat dibalas oleh anaknya. Kenangan akan semua pengorbanannya kepada kita akan semakin terasa menyesakkan dada ketika ia telah pergi dari sisi kita untuk selamanya. Yang tertinggal hanyalah nasehat-nasehat beliau yang telah mendarah daging dalam jiwa putra putrinya dalam mengarungi dunia fana ini. Rabbi ighfirli wa liwalidayya wa arhamhuma kama rabbayani saghira. Semoga kita dipertemukan Allah di surgaNya. Amin. (Al Musta’anu. Guru PAI SMP AL FALAH DELTASARI)