Keterpaduan dan Keterbukaan Antara Sekolah dan Orang Tua

Keterpaduan dan Keterbukaan Orang Tua dan Guru

Keterpaduan dan Keterbukaan

Oleh : Kartika Nawangsasi, S.S. (Guru SD Al Falah Surabaya)

Baru-baru ini, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan bahwa bahasa Inggris di sekolah dasar akan dihapus, mata pelajaran ini ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial melebur menjadi Ilmu Pengetahuan Umum. Selanjutnya kurikulum akan dirombak dengan pendekatan tematik integratif yang mengombinasikan antara 6 pelajaran utama yakni PPKN (sebelumnya PKn), Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya dan Pendidikan Jasmani. Perombakan ini untuk sementara memang hanya untuk kelas 1-3, sedang kelas 4-6 masih didiskusikan lagi.

Jelas, kurikulum seperti ini mengacu kepada kurikulum Eropa, Finlandia khususnya. Namun keadaan di Finladia tentu saja tidak sama dengan di Indonesia. Mulai dari sumber daya sampai prasarana. Tidak perlu kita membandingkan dengan kondisi Indonesia yang berada di pelosok, dengan yang di kota besar saja sudah terlihat perbedaannya. Kalaupun ada yang setaraf dengan Finlandia tentu tidak lebih dari seperempatnya. Selain itu, di Finlandia tidak ada assesment dan siswa dibebaskan untuk memilih kurikulum yang diminati.

Sedangkan sistem pendidikan yang ada di Indonesia bermuara pada assesment atau penilaian. Gampangnya, semua hasil pembelajaran diukur dengan penilaian. Standar yang diberikan sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Standarnya sama untuk semua siswa, dari Sabang sampai Merauke. Ketika sudah distandarkan maka kurikulum tersebut berlaku massal untuk siswa sekolah di seluruh Indonesia. Tidak ada pengecualian, tidak ada perlakuan khusus, semua anak Indonesia dianggap memiliki kemampuan yang sama. Kalau tidak bisa memenuhi standar, ya maaf, berarti anak-anak tersebut tidak mampu, sehingga wajar kalau tidak diluluskan.

Sekolah memang berkewajiban mengantar siswa-siswanya untuk melewati semua kurikulum yang sudah ditetapkan tersebut. Namun bagaimana peran orang tua dalam proses tersebut? Selama ini mungkin yang terbayang di benak orang tua hanya sebatas mata pelajaran saja. Kemudian tahukah orang tua bahwa mata pelajaran tersebut kemudian diurai menjadi bahan ajar? Dari bahan ajar tersebut, guru akan mengantar siswa-siswanya setahap demi setahap. Tidak banyak orang tua yang mau dan berkenan mengikuti tahapan-tahapan tersebut. Apa tujuan pembelajarannya? Apa indikator keberhasilannya? Asal ulangan nilainya baik, selesai. Memang tidak perlu, orang tua mengenal secara detil isi kurikulum, itu tugas guru dan sekolah. Namun paling tidak, apa yang menjadi tujuan umum perlu untuk diketahui sehingga apa yang diajarkan di sekolah bersinergi dengan apa yang dikerjakan di rumah.

Ada beberapa cara agar sekolah dan orang tua bisa bersinergi. Sekolah dan orangtua bukanlah dua daratan yang dipisah oleh sungai dan sungai itu hanya bisa dilewati oleh manusia yang berlabel ‘siswa’. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar orang tua dan sekolah bisa ‘lebih dekat lagi’ Hal tersebut antara lain keterpaduan. Keterpaduan dalam menerapkan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan di sekolah. Keterpaduan ini bisa didapat dengan cara menjalin komunikasi yang baik antara sekolah dan orang tua. Bentuk komunikasinya pun bisa bermacam-macam. Bisa lewat komite sekolah, forum diskusi kelas, parenting dan sebagainya. Dari situlah kita bisa saling berbagi mengenai perkembangan anak di sekolah maupun di rumah. Selain keterpaduan, keterbukaan juga menjadi hal yang dipentingkan. Sehingga masalah yang terjadi di sekolah ataupun di rumah bisa dengan mudah dicarikan jalan keluar.

Dengan adanya keterpaduan dan keterbukaan antara sekolah dan orang tua, insya Allah kita semua bisa membekali anak-anak kita dengan nilai-nilai mulia spritual, ilmu yang bermanfaat, cinta dan kasih sayang, serta budi pekerti yang luhur. Tak peduli berapa kali kurikulum kita harus diganti, kita semua adalah pendidik bagi anak-anak kita. (tik)