Konsep Penyiapan Generasi Masa Depan

Ust. Juwito Ashari, M.A.

Ust. Juwito Ashari, M.A.

Oleh : Juwito Ashari, M.A. (Guru SD Al Falah Surabaya)

Dalam menghadapi tahun pelajaran baru banyak yang harus dipersiapkan. Kesiapan finansial untuk mencukupi kebutuhan perlengkapan sekolah, kesiapan psikologi anak untuk menghadapi tantangan baru di kelas baru dan kesiapan program pendidikan yang mampu mengantarkan anak-anak untuk menjadi generasi saleh-salehah. Semua kesiapan tersebut saling berkaitan.

Pada kesempatan ini yang paling penting adalah menyamakan persepsi bersama tentang kesiapan program pendidikan yang akan dilaksanakan oleh anak-anak, orang tua/wali murid, dan seluruh ustadz-ustadzah. Untuk itu, kita akan mencoba memahami bersama dengan pendekatan Qurani (surat Al Fatihah) dan sunnah nabi.

Surat Al Fatihah sebagaimana yang sudah kita pahami adalah sebagai Ummul Quran atau induknya Al Quran yang isinya adalah meliputi seluruh isi Al Quran. Artinya dengan memahami surat Al Fatihah kita akan mendapatkan gambaran global tentang seluruh konsep kehidupan termasuk di dalamnya konsep strategi penyiapan generasi masa depan yang saleh-salehah.

Kalimat basmallah dalam surat Al Fatihah menunjukkan bahwa segala hal haruslah disandarkan atas nama Allah Swt. Dan, tidaklah pantas kita melakukan sesuatu dengan atas nama pribadi karena itu mengantarkan pelakunya pada sifat ananiyah (rasa keakuan). Di sisi lain apabila kita melakukan sesuatu bukan dengan atas nama-Nya, amal kita otomatis tidak ada nilainya dan sia-sia belaka (Al hadist). Dalam perencanaan program pendidikan juga demikian, harus diawali dengan niat yang lurus untuk mendapatkan ridla Allah dan bukan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Orang tua berniat untuk menjalankan amanah “anak” dari Allah dengan bekerja sama dengan sekolah. Pihak sekolah berkomitmen kuat membuat perencanaan untuk kepentingan masa depan Islam bukan untuk kepentingan sesaat.

Ayat ke dua sampai ayat ke empat yang bunyinya “alhamdulillahi robbil ‘alamin, arrahmanir rohiim, maaliki yaumiddiin” adalah fondasi tauhid. Mari kita bahas dengan pendekatan ilmu lughoh. Kata alhamdu arti asalnya adalah pujian dan karena diawali dengan alif lam lahu ma’na istighroq sehingga kata tersebut memiliki makna segala macam pujian. Kemudian dilanjutkan dengan kata lillahi yang artinya milik Allah. Dan apabila dikumpulkan makna alhamdu lillah adalah segala macam pujian itu hanya milik Allah saja. Dari makna di atas muncul pertanyaan, “Apakah boleh kita memuji selain Allah, seperti memuji manusia?” Menjawab pertanyaan tersebut kita kembalikan kepada hadis nabi “Dari Abu Bakar radliallahu anhu dia berkata: Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam maka beliau bersabda:“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: Aku mengira dia seperti itu dan Allahlah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapa pun di hadapan Allah.” (HR. Muslim).

Larangan memuji tersebut karena ada illat atau sebab, “Apabila dengan pujian tersebut maka orang yang dipuji menjadi muncul keakuan “ananiyah”. Kesimpulannya, memuji apalagi melebih-lebihkan seseorang tidaklah boleh, yang dibolehkan adalah mengucap terima kasih sebagaimana hadist nabi, Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, dia tidak berterima kasih kepada Allah (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani). Kalau kita kembalikan kepada konsep pendidikan maka kita dilarang keras memuji dan melebih-lebihkan konsep dari barat. Kita harus mengembalikan semuanya kepada konsep Allah yang ada dalam Al Quran dan Al Hadis.

Kata setelah lillah adalah kata rabbil ‘aalamiin, arrahmaani, arrahiimi, maaliki yaumiddiin. semua kata sesudah kata lillah tersebut adalah na’at atau sifat dari Allah. Dan, dari susunan kalimat tersebut dapat kita pahami bahwa segala puji itu hanya milik Allah, Allah Yang Mencipta, menjaga dan memelihara seluruh alam (rabbil ‘aalamiin), Allah Yang Maha Pengasih (arrahmaan), Allah Yang Maha Penyayang (arrahiim), Allah Yang Memiliki hari pembalasan (maaliki yaumiddiin). Ayat dua sampai ayat empat ini adalah fondasi tauhid. Ayat tersebut menggambarkan tentang keharusan kita mengenal Allah dengan lebih dekat karena kemampuan kita dalam memuji Allah nantinya tergantung dan berbanding lurus dengan kemampuan kita dalam mengenal siapa Allah itu? Menyikapi ayat dua sampai ayat empat ini maka dalam perencanaan program pendidikan hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat program pengenalan dan penguatan-penguatan akidah. Konsep penanaman akidah ini sesuai dengan sirah nabi. Nabi pada masa awal pembentukan kader Islam di kota Makkah diawali dengan penanaman akidah sebelum memberikan pengajaran ubudiyah, muammalah dan lain-lain. (Bersambung).