Menanam Karakter Positif Sejak Dini Melalui Sosiodrama

menanam-karakter-positif-sejak-dini-melalui-sosiodrama-kb-tk-2

Menanam Karakter Positif Sejak Dini

Tidak mudah bagi guru maupun orangtua untuk menanamkan suatu kebaikan kepada anak, namun begitu mudah anak-anak meniru suatu perbuatan atau perilaku yang tidak baik. Keadaan yang berbanding terbalik tersebut menuntut guru, orangtua dan masyarakat yang menjadi 3 pilar dalam proses pendidikan harus bersinergi dalam proses mencetak anak-anak yang berkarakter baik, sesuai dengan Ditjen Mandikdasmen Kementrian Pendidikan Nasional atau 9 pilar karakter yang dicetuskan oleh Ratna Megawangi.

Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain atau cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam proses memahami setiap karakter yang dimiliki oleh anak, langkah awal adalah dengan melakukan observasi atau pengamatan untuk mengetahui sifat dasar yang dimilikinya. Langkah kedua adalah mencari sumber materi yang dapat meramu antara harapan dari Ditjen Mandikdasmen dan juga telaah Al Quran dan Al Hadis sebagai pedoman umat Islam serta belajar dari sirah Nabi Muhammad Saw sebagai suri tauladan dalam berperilaku sehari-hari.

Di KB-TK Al Falah, penanaman karakter telah dilakukan mulai dari awal tahun ajaran baru seperti karakter; aku anak mandiri, aku anak jujur, aku sayang teman, aku anak tertib dan aku anak peduli, dengan cara memainkan sosiodrama yang diperankan oleh setiap guru/ustdazah secara bergantian. Salah satu contoh skenario dari karakter aku anak mandiri,  Ustadzh Ria Fatmawati memerankan anak yang malas untuk berangkat ke sekolah, bangun pagi saja sampai berulang kali ibunya (diperankan oleh Ustadzah Nur Aida Jasmine) membangunkan. Setelah bangun masih nonton televisi sambil disuap makanan lalu mandi dengan bantuan ibunya. Ibunya terlihat sangat repot untuk menyiapkan perlengkapan anaknya. Berbeda dengan Ustadzah Aninatul Fuad yang memerankan anak rajin, semua keperluan dirinya disiapkan sendiri dan berangkat ke sekolah pun dengan senang hati untuk bermain bersama teman dan guru/ustadzah.

Setelah permainan sosiodrama ini, anak-anak KB-TK Al Falah mendapatkan kertas berwarna hitam dan putih sebagai simbol anak yang rajin dan belum rajin. Anak-anak memberi simbol kepada anak belum rajin dengan warna hitam dan anak rajin dengan warna putih. Dan tak lupa menambahkan cerita kepada anak-anak bagaimana perilaku Nabi Muhammad melakukan aktivitas di pagi hari dan sikap yang harus dicontoh.

Kegiatan penanaman karakter ini dilakukan di setiap awal bulan, lalu membuat pengamatan/observasi kepada anak-anak selama 4 pekan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Pada akhir pekan di hari Jum’at anak-anak berkumpul kembali di halaman untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka lakukan saat penanaman karakter “aku anak mandiri” ini. Selanjutnya ustadzah menuliskan setiap jawaban anak pada kertas sebagai KWL yang nantinya akan didisplay di dalam kelas masing-masing. Setiap anak mendapatkan pin bertuliskan “ aku anak mandiri” sebagai perayaan dari aktivitas kegiatan selama satu bulan tersebut.

“Ini merupakan salah satu cara memberikan ilmu dan pengalaman kepada anak-anak agar bisa menjadi contoh yang baik dalam proses penanaman karakter terutama mencontoh sikap dan perilaku Nabi Muhammad sebagai suri tauladan umat Islam,“komentar ustadzah Dra Kamini selaku kepala KB-TK Al Falah saat ditanya tentang tujuan dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Melalui program penanaman karakter sejak dini, semoga semua anak-anak KB-TK Al Falah menjadi generasi yang berakhlakul karimah. Amin. (Suwaidah)