Motivasi Baru bagi Guru

Drs. Jidi, M.Si.Drs. Jidi, M.Si.

Motivasi Baru bagi Guru

Oleh : Drs. Jidi, M.Si.

(Sekdir dan Humas Lembaga Pendidikan Al Falah)

Kita yang punya perhatian terhadap pendidikan harus terkejut berkali-kali. Penyebabnya bisa tawuran pelajar yang kian marak, makin santernya berita keterlibatan anak usia sekolah dalam tindak kejahatan, pencemaran buku pelajaran oleh pornografi, hingga tindak kekerasan terhadap pelajar yang tak jarang menelan korban. Kini ada lagi penyebab keterkejutan yang tak kalah menghentak, yaitu sebuah data yang menunjukkan bahwa status guru yang terlanjur dicetak tebal dalam sertifikat sebagai pendidik profesional, ternyata hasil uji kompetensi (UKG)-nya masih jauh dari syarat minimal kelulusan, sebesar 70.

Di Jawa Timur misalnya, nilai rata-rata UKG TK 46,53, SD 43,83, SMP 54,21, SMA 54,14, sementara untuk nasional hanya 44,5 (Jawa Pos, 14 Agustus 2012). Terlepas apakah soal-soal UKG benar-benar relevan dan valid dalam mengukur kompetensi guru yang sebenarnya serta akomodatif terhadap berbagai disparitas kondisi yang ada secara nasional. Yang jelas, data hasil sementara UKG itu cukup menggoda untuk menstigmasi bahwa sebagian besar guru yang telah menerima tunjangan profesional pendidik (TPP) dari negara ternyata belum memenuhi syarat profesionalnya.

Jika hasil UKG benar-benar valid, tampaknya sedang terjadi keabnormalan dalam sistem pendidikan kita. Sementara dalam hal hasil kerja guru seperti terjadi anomali. Mengapa? Karena dengan kompetensi yang rendah saja guru-guru sudah mampu mengantarkan siswa meraih hasil UN yang hampir selalu jempolan. Apalagi jika guru-guru berkompetensi tinggi.

Di mata masyarakat, hasil rendah UKG potensial menurunkan kepercayaan (trust) terhadap guru. Meski tunjangan sudah diberikan oleh negara, kualitas guru masih serendah itu. Tidak mustahil pula akan muncul anggapan bahwa kualitas SDM guru masih menjadi bagian dari permasalahan pendidikan nasional. Seandainya pendidikan di negeri ini dianggap tak maju-maju atau gagal, dapat dengan gampang rendahnya profesionalitas guru terjustifikasi sebagai penyebabnya.

Meskipun demikian, guru-guru Lembaga Pendidikan Al Falah khususnya, guru Indonesia pada umumnya tetap tidak layak untuk berpatah arang. Justru belajar dari hasil UKG itu guru-guru dapat terpacu dan optimis serta cerdas dalam mengambil hikmah. Guru-guru tertuntut untuk tetap bersikap arif dan merancang tindak lanjut yang produktif secara terukur agar dapat mengubah stigma menjadi asupan energi baru bagi guru dalam meningkatkan profesionalitasnya.

Ada motivasi baru bagi guru. Dengan spirit peringatan hari guru tahun ini sudah selayaknya bila guru-guru terus berusaha menjadi lebih profesional serta tetap menyadari bahwa guru perlu terus berguru. (Jidi)