Prof. DR. Arief Rachman, M.Pd.Prof.DR.Arief Rachman,M.Pd.

Membangun Karakter dan Kreativitas Anak dan Remaja

Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan sangat lekat di benak kita. Karena itu, sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pelopor masa depan umat Islam.

Dalam hal ini Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarga, yang paling utama adalah kedua orang tua. Karena keluarga merupakan lembaga pendidikan yang paling dominan secara mutlak, dan anak adalah amanah Allah yang diberikan kepada para orang tua, ditangan orang tuanyalah masa depan anak-anak dipersiapkan dan kelak para orang tua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas amanah yang diberikan.

Dalam upaya tersebut maka pada hari Sabtu tanggal 16 Mei 2009 Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya menyelenggarakan Seminar Nasional tentang Pendidikan yang mengusung tema “Menjadi Orang Tua Efektif Membangun Kararakter dan melejitkan kreativitas Anak dan Remaja” yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Arief Rachman M.Pd., Pembina Lab School yang juga guru besar UNJbertempat di Aula Kanwil Depag jl. Raya Juanda Waru-Sidoarjo, yang diikuti tak kurang dari 350 peserta yang terdiri dari para orang tua siswa dan para pendidik dari berbagai daerah.

Pada Seminar kali ini Prof. Arief mengatakan bahwa pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang mampu mengantarkan anak menjadi anak yang bertaqwa, mempunyai berkepribadian matang, berilmu mutakhir, dan berprestasi, serta Mempunyai rasa kebangsaan dan berwawasan global.

Pak Arief juga memaparkan beberapa cara dalam bentuk tabell mengenai perilaku orang tua dalam mendidik anaknya serta hasil dari cara pendidikannya. Berikut adalah tipologi orang tua dan tipe anak sebagai hasilnya.

a. Otoriter

Perilaku Orang Tua Watak Anak Jati diri anak akan menjadi :
Paling Tahu Merasa kurang---- Sulit mengaktualisasikan jati diri
Berkuasa Tidak berdaya Tidak berprestasi
Memerintah Menurut Kepedulian rendah
Selalu Benar/ Manyalahkan---- Takut salah Tidak peduli
Emosional Tempramen Mendahulukan emosi untuk menyelesaikan masalah
Menolong Menerima saja Mudah terpengaruh

b. Melindungi

Perilaku Orang TuaWatak AnakJati diri anak akan menjadi :
MemanjakanTegantungSulit berperan dewasa
Memenangkan------------TerjaminBerkuasa
MembelaBerlindung pd orang tua------Rentan/tidak tahan banting

c. Membebaskan

Perilaku Orang TuaWatak AnakJati diri anak akan menjadi :
Sangat percaya pada anak---------Menganggap dewasaKemauan harus dituruti
Mengijinkan semua permintaanTidak terikat sistem-----Binal

d. Suri Teladan

Perilaku Orang TuaWatak AnakJati diri anak akan menjadi :
Mengarahkan/ menjelaskan-----Hormat kepada Orang tua-----Menjaga Nama baik Keluarga
BerdialogSenang berdiskusiMudah bersosialisasi
Memberi Pedoman (Berprinsip)Berkesadaran tujuan hidupBerprinsip
BekerjasamaMerasa diperlukanDewasa
MembimbingMemiliki tempat bertanyaMemiliki akar dalam keluarga
Mengarahkan/ menjelaskanHormat kepada Orang tuaMenjaga Nama baik Keluarga

Beliau juga menerangkan bahwa didalam keluarga terdapat 5 (lima) potensi dasar yang harus dikembangkan, yang pertama adalah :

Potensi Spiritual, yaitu :

  1. Mampu menghadirkan Tuhan/ keimanan dalam setiap aktifitas
  2. Kegemaran berbuat untuk Allah
  3. Disiplin beribadah.
  4. Sabar berupaya.
  5. Berterima kasih/bersyukur atas pemberian Tuhan kepada kita

Potensi Perasaan (EQ), yaitu :

  1. Mampu mengendalikan Emosi
  2. Mengerti perasaan orang lain
  3. Senang bekerjasama
  4. Menunda kepuasan sesaat
  5. Berkepribadian stabil

Potensi Akal, yaitu :

  1. Kemampuan berhitung
  2. Kemampuan verbal
  3. Kemampuan Spasial
  4. Kemampuan membedakan
  5. Kemampuan membuat daftar prioritas

Potensi Sosial, yaitu :

  1. Senang berkomunikasi
  2. Senang menolong
  3. Senang berteman
  4. Senang membuat orang lain senang
  5. Senang bekerjasama

Potensi Jasmani, yaitu :

  1. Sehat secara medis
  2. Tahan cuaca
  3. Tahan bekerja keras

Watak yang perlu dikembangkan pada anak adalah bertaqwa, fleksibel, keterbukaan, ketegasan, berencana, percaya diri/mandiri, toleransi, disiplin, berani ambil resiko, orientasi masa depan, dan penyelesaian tugas.

Sebagai kesimpulan, bahwa cara sukses pendidikan anak yang benar yaitu dianalogikan sebagai segitiga sama sisi yang saling berhubungan pada tiap sisinya, dan tiap sudutnya adalah pencerminan dari siswa efektif, orang tua efektif, dan guru efektif. (Galih)