Ust. Tukin, S.Pd.Ust. Tukin, S.Pd.

MENDIDIK ANAK DENGAN AKHLAK

Oleh : Tukin, S.Pd.
(Kepala SD Al Falah Surabaya)

“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan orang tualah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (al Hadist).

Seorang anak ibarat kertas putih, apakah kertas itu dicoret dengan tinta warna merah, abu-abu, hitam pekat atau tetap dijaga putih selamanya, semua bergantung pada pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua.

Pada dasarnya semua orang tua menginginkan putra-putrinya sukses, baik di dunia terlebih di Akhirat kelak. Bahkan seorang perampok sekalipun tetap punya keinginan agar anaknya jadi anak yang baik dan sukses tidak seperti dirinya. Pendidikan yang baik jualah yang dapat mengantarkan putra-putri kita menjadi generasi yang sukses menatap masa depan. Di samping kecerdasan akademik yang baik, pola pembinaan akidah akhlak harus senantiasa kita berikan kepada mereka. Pola pembinaan ini kita lakukan terus-menerus dan berkelanjutan. Sumber pembinaan utama akhlak terdapat dalam Alquran dan As Sunnah. Ketika sayidah Aisah ditanya salah satu sahabat tentang akhlak Rosululloh, beliau menjawab bahwa akhlak Rosululloh adalah Alquran. Ada banyak pembelajaran akhlak yang terdapat dalam Alquran. Kisah Luqmanul Hakim dapat menjadi salah satu teladan bagi kita tentang pola pembinaan akhlak anak. Kisah tersebut terdapat dalam surah Al Luqman 13-19 yang antara lain berisi:

  1. Hai anakku jangan pernah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukannya adalah dosa yang teramat besar. Larangan tersebut merupakan perintah pertama dan paling utama yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita. Yang menjadi pertanyaan adalah sudah berapa kali kita tanamkan pemahaman ini pada anak kita. Setiap hari, setahun sekali, atau bahkan belum sama sekali. Pola pikir Yahudi, Nasrani, dan Majusi merambah di segala aspek kehidupan kita. Sejauh apa usaha kita untuk membentengi anak dengan pola pikir yang Islami. Atau justru kita sendiri ikut dengan pola pikir itu, sehingga masuk ke lubang biawakpun kita ikuti. Itulah gambaran Rosululloh akan keadaan umat beliau di akhir jaman. Bahkan Rosululloh menggambarkan seperti buih yang terombang ambing oleh ombak di lautan. Keteladanan adalah salah satu kunci agar anak kita tidak terjerumus pada pola pikir yang menyesatkan. Sudahkan kita memberikan teladan yang meng-esakan atau justru menyekutukannya?

  2. Kepada kedua orangtua hendaknya selalu berbuat baik. Terutama seorang ibu yang mengandung selama 9 bulan dalam keadaan yang teramat lelah dan sakit, dan menyusui selama 2 tahun. Maka berterima kasihlah kalian pada kedua orangtuamu.

  3. Dan apabila kedua orang tuamu mengajakmu berbuat ingkar (syirik) kepada-Nya, dan engkau tidak mengetahui akan perkara itu maka janganlah engkau ikuti dan tetaplah menjadi sahabat yang baik bagi mereka selama keduanya masih hidup bersama kita. Berapa banyak anak yang tidak patuh (durhaka) pada orangtua karena kelalaian orangtua sendiri. Orangtua menanamkan pada anak bagaimana berperilaku dan berakhlak sejak dini.

  4. “Hai anakku ketahuilah semua perbuatan yang kita lakukan apakah baik atau buruk walaupun sebesar debu, dan debu itu terdapat dalam batu yang tersembunyi di atas langit atau di dasar bumi akan dilihat oleh Alloh dan pasti akan dibalas sesuai perbuatan itu.”

  5. “Hai anakku dirikanlah sholat, saling mengajaklah dalam kebaikan, cegahlah kemungkaran dan senantiasa bersabar dengan segala musibah. Sesungguhnya yang demikian adalah termasuk perkara yang utama.” Suatu saat Rosululloh memerintahkan pukullah anakmu ketika umur 7 tahun dan belum melaksanakan sholat. Demikian pentingnya perintah sholat sehingga Rosulullah sampai memerintahkan kepada kita agar memukul anak kita ketika lalai dengan sholatnya. Tentu bahasa pukullah disini tidak serta merta diartikan bahwa kita seharusnya main pukul kepada anak ketika anak tidak melaksanakan sholat. Pukulan bisa diartikan peringatan yang mampu memahamkan anak akan kewajibannya, atau paling tidak pukullah dengan pukulan yang paling ringan dan pada bagian yang tidak menyakiti anak. Sehingga anak memahami bahwa pukulan tersebut adalah bentuk kasih sayang kita pada mereka.

  6. “Hai anakku janganlah engkau memalingkan muka kepada orang lain karena sombong , dan jangan kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai perbuatan yang demikian.”

  7. Sederhanakanlah dalam tindak tandukmu, pelankan suaramu sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.

Perintah di atas adalah sikap yang harus kita tanamkan pada anak. Bahwa setiap manusia masing-masing mempunyai kelemahan dan kelebihan, dengan kelemahan dan kelebihan tersebut kita bisa saling melengkapi, saling menghargai, dan saling menghormati sehingga tercapai keharmonisan dalam hidup ini.

Demikian sedikit contoh pola pembinaan ahklak yang terdapat dalam Alquran yang di perankan oleh Al Luqmanul Hakim. Luqman memberikan teladan dan pemahaman kepada anak-anaknya bagaimana seharusnya berakhlak kepada Allah SWT, bagaimana berakhlak kepada orang tua dan bagaimana berakhlak kepada sesama. Semoga kita bisa meneladani contoh agung dari manusia pilihan ini.