Positif Thinking for Students

Abdillah F Hasan

Abdillah F Hasan

Oleh : Abdillah F Hasan (Pendidik di SMP Al-Falah)

Dalam hidup ini banyak ditemukan kisah dari orang-orang hebat yang ‘tidak diduga,’ namun mampu mengubah keadaannya tiga ratus enam puluh derajat. Dari level bawah, merangkak, berjalan, dan mendaki hingga meraih puncak. Syekh Amar Bugis, sejak lahir dalam keadaan cacat. Tidak ada anggota tubuh yang bisa digerakkan kecuali mulut dan mata. Namun ketika menginjak 13 tahun sudah hafal Quran 30 Juz. Kini beliau menjadi cendikiawan Muslim kaliber dunia. Hirotada Ototake dari Jepang, tidak punya tangan dan kaki. Tapi ia menginspirasi jutaan orang lewat kisah hidup dan perjuangannnya yang ia tulis dalam bukunya yang terkenal, ”No One’s Perfect”. Begitu juga, Nick Vujicic, motivator asal Australia ini mengalami sindrom langka, tetra-amelia, yaitu penyakit yang membuat dirinya tidak memiliki lengan dan kaki sejak lahir. Tapi siapa sangka popularitasnya membelakkan mata dunia. Abraham Lincoln yang menjadi presiden ke 16 Amerika, mulanya hanya seorang kuli. Bahkan Imam al-Ghazali, ulama kondang sepanjang zaman, hanya anak tukang tenun yang berasal dari keluarga sangat sederhana.

Orang-orang sukses ternyata juga manusia biasa. Sama-sama diciptakan dari tanah. Makan atau berpakaianpun menggunakan bahan yang sama, kain. Kalau mandi juga menggunakan air bersih, bukan comberan. Lalu apa yang membedakan? Ya, kemauan untuk maju!

Seorang siswa tidak akan maju dalam bidang apapun jika bersikap fatalis, menyerah pada nasib tanpa berbenah diri. Seorang siswa yang sering mengalami kesulitan dalam meraih prestasi, umumnya ada ‘titik penghalang’ dalam pikirannya. Seperti ungkapan, ‘Saya siswa bodoh, mana mungkin bisa juara kelas. Saya anak orang miskin mustahil bisa sukses. Nilai saya jelek, bisakah lulus ujian? Saya hanya buruh mana bisa jadi manager? Ungkapan ungkapan itu selalu mengiang di pikiran sehingga menjadi sebuah energi negative yang akhirnya menuntunnya menjadi pribadi yang serba ‘tidak mungkin’ berhasil.

Seseorang yang berpikiran positif atau berpikir secara optimis tidak menganggap kelemahannya bersifat abadi. Sebaliknya, ia menerima kemudian melakukan evaluasi untuk perbaikan diri. Dalam sejumlah penelitian disebutkan bahwa individu yang optimis lebih sehat secara fisik, dan lebih jarang mengalami depresi, lebih baik di sekolah, lebih peoduktif dalam kerja, dan lebih banyak menang dalam olahraga (Reivich & Shatté, 2002).

Sebaliknya, orang yang pesimis sering kali menyalahkan diri sendiri. Ia menganggap bahwa kemalangan (kegagalan) bersifat abadi dan hal itu terjadi karena faktor takdir, kebodohan, dan kelemahnnya. Intinya, orang yang pesimistis itu tak berhenti memikirkan hal-hal yang negatif.

Sebenarnya tidak sulit mengubah mindset, berpikir negatif menjadi positif, hanya butuh waktu untuk membiasakan diri. Menjadi seseorang yang optimis, menurut berbagai studi sebenarnya bisa dilatih. Sekali lagi, bisa dilatih! Dalam studi terhadap 5.600 anak pra-remaja di Australia, ditemukan bahwa pikiran yang optimis bisa membantu melindungi anak dari masalah emosional, seperti sikap antisiosial, penggunaan narkoba, depresi, dan lainnya. Pendek kata, optimisme bermanfaat untuk menghadapi permasalahan hidup yang menekan.

Allah memberi manusia kecerdasan (otak) luar biasa. Otak manusia merupakan pusat pengaturan yang bervolume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 miliar sel saraf. Otak tersebut bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh pemikiran dan informasi yang ditangkap indera. Otak inilah yang dapat mempengaruhi perkembangan kognisi manusia sehingga ia bisa beraktivitas, berkreasi, berproduksi dan membuat perubahan dalam hidupnya.

Bersikaplah dan penuhi otak (pikiran) dengan sikap optimis, seperti burung yang selalu yakin, ketika pagi hari pergi mencari makan dan sore harinya pulang dengan perut kenyang. Si burung tidak dianugerahi kesempurnaan akal, tidak pernah sekolah di PTN terkenal, namun nalurinya selalu yakin dengan kesuksesan yang diraihnya. Bagaimana dengan manusia yang dibekali akal yang luar biasa sempurna? Camkan dalam hati,”Saya adalah hamba Allah yang diciptakan dengan segala kesempurnaan. Prestasi apapun yang saya inginkan, pasti ada dalam genggaman.”