The Power of Istiqamah

Abdillah F Hasan (penulis The Power of Istiqamah)Alkisah, seorang murid dari negeri seberang menuntut ilmu di negeri nan jauh. Ia melewati hutan belantara dan dan mengarungi lautan hanya untuk menimba ilmu dari seorang maha guru yang terkenal. Hanya berbekal tekat kuat si murid akhirnya tiba ke tempat tujuan, di sebuah pulau yang jarang dijamah manusia. Di sana, tidak hanya dirinya, sudah ada sepuluh murid yang juga belajar bersama. Tiga tahun berlalu. Pelajaran demi pelajaran telah diberikan namun hanya beberapa murid saja yang berhasil menyerap ilmu dari sang guru. Dengan hati kecewa pulanglah ia menuju kampung halaman. Ketika terakhir kali akan berpisah, sang guru menasehati. “ Pehatikan dengan seksama setiap tetesan air yang membasi batu.“ Semula, si murid menganggap nasehat itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Ketika sudah pulang ke rumah, si anak terkejut melihat melihat sebuah batu yang telah berubah bentuk. Batu itu terletak di pekarangan rumah tepatnya di bawah air pancuran.

Setiap hari pancuran itu selalu meneteskan air dari aliran kecil sungai desa. Ia masih ingat, tiga tahun lalu, batu itu datar, kini telah cekung. Sadarlah ia bahwa perubahan itu karena tetesan air. Kesadaran itu telah memantik jiwanya untuk kembali belajar tanpa mengenal lelah. Akhirnya, beberapa tahun kemudian ia menjadi pribadi sukses.

Kisah di atas bukan sekedar memaknai fungsi air yang bisa menggerus batu, karang dan semacamnya. Tapi ada makna besar yang harus diungkap bahwa sesuatu yang dilakukan terus menerus (istiqamah), pada akhirnya akan membawa perubahan.

Sejarah hidup orang-orang yang beristiqamah patut dibaca dan dihidupkan kembali dalam memori.. Kita ingat ketika di abad 19 ada ilmuwan yang mampu menghasilkan ratusan temuan baru, hanyalah anak putus sekolah di SD tingkat tiga. Tapi ia terus menerus (istiqamah) membaca buku dan belajar dan akhirnya ia suskses sebagai ilmuwan dunia, Thomas A. Edison, namanya. Bahkan negeri ini bisa merdeka dengan peralatan perang sekadarnya juga karena istiqamah (berjuang terus-menerus) tanpa mengenal lelah.

Inilah buah dari istiqamah, kesuksesan. Kata Istiqamah sudah sering kita dengar dalam pengajian-pengajian, dalam slogan-slogan, dan bahkan dalam percakapan kita sehari-hari. Tetapi apa sebenarnya makna (yang selaras dengan tindakan) tentang Istiqamah ini? Apakah semudah kita mengucapkannya? Dan apakah sudah benar-benar kita hayati makna Istiqamah itu? Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit.  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Perkembangan dunia modern dan amat ambisius saat ini tidak mentolerir siapa saja yang tidak adaptif terhadap segala perkembangan. Sedangkan perkembangan itu sendiri pasti diiringi oleh segudang hal yang kerap mengandung nilai nilai negatif. Jika tidak dengan bekal keistiqamahan dalam keimanan, ibadah dan belajar lantas apakah ada resep mujarab untuk menangkis setiap keburukan yang muncul ?

Tak heran ketika menyaksikan anak-anak  kita bergumul ria dengan perilaku ibadah baik di sekolah maupun di rumah, rajin belajar dan patuh orantua pasti terpancar kegembiraan tiada tara dalam kalbu. Keletihan dan kepayahan menggendong mereka dalam kandungan hingga 9 bulan, melahirkannya, menyusui saat bayi, kemudian memberi makanan bergizi menjelang pertumbuhannya–hilang seketika– saat menatap mereka sedang melakukan shalat, berdzikir, mengaji, belajar dan berdoa dengan penuh kerendahan untuk kebaikan diri, orangtua, masyarakat dan bangsanya.

Seorang anak ibarat kertas putih yang bersih tanpa noda. Orang yang pertama kali menggambar kertas tersebut adalah orangtua si anak. Bagus tidaknya ‘gambar’yang dihasilkan terggantung peran orang tua. Apakah kertas tersebut mau diisi gambar yang tanpa makna atau tulisan indah nan menarik. Menjadi teladan adalah salah satu cara bagi orangtua untuk ‘menumbuhkan’ karakter anak. Orangtua dapat memberi contoh bentuk perilaku istiqamah di internel keluarga, misalnya shalat wajib yang selalu dilakukan tepat waktu. Selalu bersedia membantu orang lain. Membiasakan disiplin membaca. Kontinu menjalin silaturahim dan penamaman nilai ibadah dan semangat hidup lainnya. Berperilaku istiqamah akan sangat bagus lagi jika didukung oleh lingkungan di luar orangtua terutama di lingkungan pendidikan.

Abdillah F Hasan

Penulis buku Ensiklopedia Akhlak Mulia