Tontonan Menjadi Tuntunan, Tuntunan Menjadi Tuntutan

Tontonan yang menjadi TuntunanTontonan yang menjadi Tuntutan

Tontonan Menjadi Tuntunan, Tuntunan Menjadi Tuntutan

“Adik, sholat dulu sayang. Sudah waktunya nih. Apakah tadi ada tugas dari sekolah? Coba bunda lihat”.
“Mas, tumben ndak jalan-jalan? Biasanya kalau Minggu pagi, mas ngajak Adik jalan-jalan?”Terdengar jawaban, “Bentar, Bun lagi asyik. Bentar, Bun tanggung nih. Bentar, Bun acara TV-nya lagi ok. Bentar, Bun.., Bentar Bun….”

Mungkin ini jawaban yang akan kita dengar dari buah hati kita, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Mereka asyik dengan tontonan yang saat itu ada di depan mata, dan telah membius hati, dan menyetir fikirannya, kaki dan tangannya sehingga tidak segera melaksanakan aktivitas yang biasa dan harus mereka lakukan.

Hadirnya acara televisi yang spektakuler dan peralatan telekomunikasi yang canggih, justru membawa perubahan pada diri anak, dan remaja. Tontonan yang gratis sampai yang membayar jutaan akan menjadikan rangsangan dan pengikat hati. Tontonan yang baik dan kurang baik pada akhirnya akan mentadi tuntunan pada orang yang melihatnya dan tanpa disadari akhirnya menjadi tuntutan yang harus dipenuhi. Lalu tontonan yang bagaimana yang harus kita tonton? Tontonan bagaimana yang harus kita jadikan tuntunan? Tuntunan bagaimana yang harus kita jadikan tuntutan agar terselamatkan dunia dan akhirat?

Tontonan yang bagaimana yang harus ditonton? Ada satu hal yang harus kita cermati, yakni pendampingan. Baik orang tua di rumah maupun guru disekolah. Mengapa begitu? Menonton dengan didampingi orang tua akan memunculkan dialog. Dengan demikian orang tua akan bisa memberikan arahan kepada anak, dan anak akan lebih dekat dengan kita. Menonton dengan didampingi guru di sekolah akan mengaktifkan dua gaya belajar. Yaitu belajar dengan visual dan auditorial. Tontonan yang diputarkan guru untuk anak didik akan membawa inspirasi bagi siswa untuk mensyukuri nikmat Allah, meningkatkan empati, dan percaya diri, sehingga mampu untuk meraih prestasi dengan semangat atau motivasi yang datang dari dalam diri.

Tontonan yang didampingi orang tua dan guru secara tidak langsung akan menjadi tuntunan bagi kita. Tuntunan yang baik mampu menyelamatkan dunia dan akhirat sehingga kita tidak menjadi orang yang merugi (Al Ashr:1-3). Tuntunan dianggap baik karena diserap oleh hati yang sehat. Hati yang sehat akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan. Pada akhirnya setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu, berdasarkan hati nurani yang bersih. Tuntunan dari hati yang sehat akan menuntut langkah kita untuk mengadakan perubahan. Perubahan yang didasari oleh kesadaran dan diniatkan untuk ibadah akan menjadikan generasi muda yang tangguh, berprestasi, dan mampu memanfaatkan potensi dengan maksimal dengan berorientasi dunia dan akhirat.

Sekolah Al Falah memberikan pendidikan kepada siswa dengan mengedepankan akhlak. Merubah akhlak tidak seperti membalik “pisang goreng” berbagai upaya dilakukan baik melalui lisan atau tulisan. Melalui apel tiap hari Senin, kultum di mushala, tausiah di kelas, sampai dengan pola mengajar yang berdasarkan Al Quran dan Al Hadis.

Mengubah akhlak siswa ibaratnya melubangi batu. Harus senantiasa ditetesi dengan air. Karena sikap atau perilaku yang mereka kerjakan datangnya dikomando oleh qolbu (hati). Kalau hati mereka sudah menyatu dengan kita, insya-Allah kita gampang mengarahkan sehingga mereka bisa merubah perilakunya sendiri. Seperti sabda Rasulullah, “Ingatlah dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik maka akan baiklah seluruh tubuh, akan tetapi bila ia rusak, maka akan rusak pula tubuh itu seluruhnya. Segumpal daging itu adalah qolbu (hati.” (HR. Bukhari Muslim). (Wahyu)