Berkunjung ke Sekolah Malaysia dan Singapura

Belajar di Negeri Tetangga

Belajar di Negeri Tetangga

Seminggu setelah awal pembelajaran di semester dua, tepatnya tanggal 13-19 Januari 2013, 34 siswa-siswi SMP Al Falah Deltasari mengikuti student exchange ke negeri tetangga, tepatnya di Malaysia dan studi banding ke Singapura.

Bersama tiga guru pendamping, 34 siswa berkumpul di bandara Juanda sekitar pukul 07.00 wib. Walaupun baru masuk sekolah seminggu bukan berarti para siswa ini kurang jatah liburannya, tapi karena ada sesuatu berharga yang dicari di student exchange ini. Melatih tanggung jawab, disiplin, mandiri, bersosialisasi dan percaya diri menjadi tujuan utama dari kegiatan tersebut.

Pembelajaran dimulai dari bandara, siswa harus antri mulai dari pengecekan bagasi sampai di bagian imigrasi. “Ternyata seperti ini ya, biasanya kalau aku pergi, semuanya yang mengurus papa, aku tinggal ikut aja. Sekarang aku jadi tahu, bagaimana mengurusnya,” celetuk salah satu siswa. “Ya, nanti kalau kapan-kapan kita berangkat sendiri, kita sudah tahu,” timpal peserta yang lain. “Makanya, diingat-ingat biar tidak lupa.” Terlihat rasa bangga ketika mereka diberi tanggung jawab untuk mengurus sendiri, walaupun masih dalam pantauan pendamping.

Alhamdulillah perjalanan menuju Malaysia lancar, kami langsung menuju ke Genting, sebuah Mall yang berada di sebuah pegunungan. Perjalanan kali ini cukup seru dan menguji nyali, karena ditempuh dengan Gondola yakni kereta gantung yang hanya memuat 8 penumpang. Kalau kita menengok ke bawah terlihat hutan yang cukup lebat. Meskipun perjalanan hanya 17 menit, ada deg-degan juga khawatir berhenti di tengah jalan.

Keesokan harinya, setelah sholat subuh sekitar pukul 06.00 (waktu Malaysia) kami sarapan dan bergegas ke SMK Aminuddin Baki dengan bus dan seorang guide, Mr. Acyong. Sambutan hangat dari civitas akademika membuat kami tidak canggung untuk bergabung dengan semua kegiatan di sana. Jika hari Senin biasanya kita upacara, di sana ada perhimpunan. Hampir satu jam kami mengikuti semua rangkaian acara. Meskipun siswanya hampir seribu orang, tapi mereka bisa tertib. Himbauan dari kepala sekolah, agar siswa-siswa memiliki “kecemerlangan” di bidang akademis dan akhlak. Jika mereka sudah dewasa, perusahaan akan memperhitungkan prestasi akhlak selain akademis.

Siswa-siswa SMP Al Falah dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2-3 orang. Kemudian mereka bergabung di kelas-kelas yang sudah ditentukan dengan diantar ketua kelas masing-masing.

Empat hari berbagi suka duka bergabung dengan civitas akademika SMK Aminuddin Baki banyak hal yang kita ambil. Keramahan guru-gurunya, siswa-siswa dan karyawan-karyawannya. Meskipun gedungnya tidak mewah, tapi motivasi belajar, disiplin, dan tanggung jawab siswa-siswanya tinggi.

Semua aktivitas tanpa bel, mereka harus tahu waktu kapan harus masuk, kapan istirahat dan kapan masuk kembali pembelajaran. Kedisiplinan dan tanggung jawab mereka terlihat saat di kantin. Siswa harus antri berbaris ketika membeli makanan atau minuman. Tanpa bunyi bel pun mereka langsung bergegas kembali ke kelas. Kantin pun ditinggal dengan kondisi seperti semula, bersih dan rapi.

Kami para pendamping juga ikut masuk ke kelas mengikuti pembelajaran. Cik Gu di sana tak perlu bersuara keras karena siswa-siswanya sudah punya kesadaran untuk menimba ilmu. Tak ada fasilitas LCD di kelas dan pembelajarannya pun rata-rata masih tradisional. Tapi masalah keramahan, kedisiplinan, tanggung jawab, kebersihan dan prestasinya diacungi jempol.

SMK Aminuddin Baki merupakan Sekolah Menengah Kebangsaan. Di sekolah ini siswa menempuh belajar dalam waktu 5 tahun, terdiri dari Sekolah Menengah Rendah dan Sekolah Menegah Tinggi. Tetapi dari Sekolah Menengah Bawah ke Sekolah Menengah atas tak perlu daftar lagi, pembedanya hanya pada usia. Karena prestasinya yang cemerlang, tak heran jika Cik Gu Puan Akmal mengatakan jika hampir setiap dua minggu sekali ada tamu yang studi banding di sekolahnya. Termasuk ketika kami masih ada di sana ada beberapa siswa dan guru dari Lampung yang berkunjung meskipun hanya sehari. Selepas kami pulang, ada kunjungan di sekolah ini dari salah satu SMAN ternama di Surabaya.

Awalnya ada beberapa siswa yang merasa jenuh mengikuti pembelajaran di sana, meskipun sepulang sekolah kami sempatkan mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Twin Tower, Sungai Whang, dan Butik Coklat. Tetapi di hari terakhir siswa-siswa minta lebih lama lagi belajar di sekolah ini karena sudah enjoy, mereka sudah menemukan teman dekat. Sebagai rasa terima kasih dan tanda persahabatan siswa-siswa SMP Al Falah memberi kenang-kenangan pada teman dekat mereka. Tak sedikit juga siswa dari sana yang juga memberi souvenir.

Di acara perpisahan SMP Al Falah mempersembahkan assambel dengan iringan anglung, pianika serta biola. Beberapa persembahan juga diberikan dari siswa-siswa SMK. Mereka saling mengenalkan kebudayaan negeri masing-masing.
Di Sekolah Singapura

Wow, betapa terkejutnya kami setelah melakukan penyeberangan dari Johor ke Singapura. Orang-orang Johor yang bekerja di Singapura berjalan dengan berlari kecil. “Kenapa mereka berjalan seperti terburu-buru ya,” tanya seorang siswi dengan pandangan heran. Apalagi ketika membaca sebuah kertas putih yang tertempel di sudut kaca bus depan dan belakang. Penumpang bus dilarang merokok, meludah, makan dan minum walaupun air putih. Bagi yang meludah, makan atau minum di bus akan didenda $500 setara Rp 4.125.000,00, apalagi merokok dendanya $1.000 setara dengan Rp 8.250.000,00. Pantas saja, dengan ketatnya aturan, Singapura jadi negara terbersih, maju, dan minim kriminalitas.

Hari pertama di Singapura kami gunakan untuk studi banding ke pesantren Al Juneed, salah satu dari tujuh pesantren yang ada di Singapura. Bahasa Inggris dan Arab menjadi bahasa sehari-hari mereka.
Santri di sana adalah siswa-siswi pilihan. Bersih dan rapi tampak ketika kami masuk dari pintu gerbang menuju tempat pertemuan. Kami disambut dengan mading di kanan kiri lorong yang tertata dengan rapi dan indah.

Tak lupa, sebelum meninggalkan negari Singa kami berkunjung ke beberapa tempat wisata, di antaranya Sentosa, Mustofa, Science Center, dan USS.

Yuk, mulai dari diri sendiri kita mengubah negeri ini agar semakin baik. (Murtiningsih)