Buku Sebagai Sahabat

abdillah Selama hidup kita selalu berhubungan dengan sahabat. Sahabat yang baik seyogianya memberi banyak manfaat. Demikian jika kita menjadikan buku sebagai sahabat, pasti banyak faedahnya. Sayang, tidak semua orang senang bersahabat dengan buku. Buku sering dipandang sebagai anak bawang dari sekian peralatan hidup lainya. Orang akan lebih tertarik bersahabat dengan gadget, TV, mainan elektronik daripada buku.
Bahkan orangtua lebih enjoy mengajak anaknya ke mall dan tempat wisata daripada ke toko buku. Jarang orang memberikan hadiah buku karena dianggap zadul. Pada kasus tertentu, malah ada yang menjadikan barang using. Buku berdebu dan dimakan rayap, sementara si pemilik tidak perduli.
Fatalnya, dari kakek-nenek, mbah-mbah buyut memang tidak suka buku dan itu sudah jadi warisan anak-anak, cucu-cucu sampai cicit-cicit hingga hari ini. Sifat ini seakan turunan secara otomatis. Kondisi itu diperburuk semakin tidak pedulinya orang tua akan kegiatan membaca. Semakin banyak keluarga yang kedua orang tuanya sibuk bekerja sehingga mereka tidak lagi mempunyai cukup waktu untuk mendekatkan anaknya dengan buku.
Sebuah pemeo yang sudah umum menyebut bahwa buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku kita dapat berselancar dari ujung dunia barat hingga timur, tanpa harus pergi ke sana. Bahkan jika kita ingin tahu keadaan suatu suku, masyarakat, atau komunitas purba ribuan tahun silam, kita cukup membacanya dari buku.
Berbagai peradaban besar tumbuh dan berkembang tidak lain adalah akibat pengaruh buku. Seseorang bisa saja secara fisik dijajah, namun ide dalam pikirannya yang tertuang dalam buku mampu membuat perubahan besar. Orang-orang sukses dunia mayoritas adalah mereka yang bersahabat dengan buku. Tokoh-tokoh besar dan pemimpin bangsa seperti Soekarno, Moch Hatta, Buya Hamka, M. Roem adalah orang yang bersahabat dekat dengan buku.
Bahkan kebiasaan membaca buku orang-orang di negara maju hingga menembus pada area yang paling tidak lazim. Di dalam bus mereka membaca buku, saat di pesawat terbang, di terminal, menunggu antrean bahkan hingga di toilet pun mereka asyik meletakkan buku tangannya.
Mereka meyakini bahwa buku akan mengubah hidupnya. Dari kelemahan menuju kekuatan, dari kebodohan menuju kepintaran, dari kemiskinan menuju kekayaan dan dari kegagalan menuju kesuksesan. Intinya, buku selalu memberi infomasi dan inspirasi yang dapat membantu menemukan dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Seorang sejarawan kenamaan Barbara Tuchman sampai mengatakan, “Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar, yang dipancangkan di samudera waktu.” (Abdillah)