Memahami Karakter Si Buah Hati

Ustadzah Defi Aryani Ega W.S, S.PsiUstadzah Defi Aryani Ega W.S, S.Psi

Memahami Karakter Si Buah Hati

Oleh : Ustadzah Defi Aryani Ega W.S, S.Psi

Karakter diciptakan Allah Swt. seindah pelangi yang menghiasi langit ketika hujan reda. Allah Swt. menciptakan warnanya begitu sempurna. Kesempurnaan karakter bisa terlihat dari bagaimana cara kita mengetahui potensi dari karakter tersebut. Mengapa karakter diciptakan layaknya pelangi? Karena karakter mereka akan jelas terlihat indah bila berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Dari mana kita ketahui karakter putra-putri kita? Tentunya dalam keseharian bertemu dengannya akan mengenalkan diri kita pada karakter putra putri kita. Kebanyakan dari kita mengenal karakter mereka disaat sudah mulai bertingkah laku yang tiba tiba saja tidak sesuai dengan keinginan kita sebagai orang tuanya. Lalu dari mana munculnya karakter anak yang tidak sesuai dengan keinginan kita? Mereka memunculkan karakter tersebut karena dalam kesehariannya sebagian besar dari mereka terbiasa untuk dilayani dan diadakan segala bentuk permintaannya, sehingga dalam pengaplikasian di kehidupan sehari-hari hal itu akan menjadi sebuah PR besar bagi kedua orang tuanya.

Rabbani dalam Bingkai Pendidikan Karakter-Budi Pekerti

Ana Christanti, M.Pd.Ana Christanti, M.Pd.

Rabbani dalam Bingkai Pendidikan Karakter-Budi Pekerti

Oleh : Ana Christanti, M.Pd.
(Kepala SMP Al Falah Deltasari, Sidoarjo)

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pengajaran untuk orang-orang yang berakal. Al Quran bukan cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya serta menjelaskan segala sesuatu serta sebagai petunjuk dan rahmat untuk yang beriman. (Q.S. Yusuf: 111)

Dunia terus berputar. Perilaku manusia berubah dan berkembang untuk menjawab tuntutan zaman sembari menentukan rumus mengendalikan kehidupannya. Pendidikan merupakan ikhtiar menjawab tantangan itu.

Namun, saat melaju di rel yang salah arah akibat jebakan modern dengan hedonisme sebagai prioritas, pendidikan kehilangan roh sebagai sarana jitu memanusiakan manusia, mendewasakan, serta menjauhkannya dari prinsip memegang teguh dan menjunjung kebenaran.

Kompleksitas muatan beragam institusi pendidikan saat ini, pada satu sisi, menawarkan bermacam nutrisi pengetahuan kepada peserta didik agar mampu mengenali isi dunia. Di sisi lain, proses itu bisa saja menjebak mereka dalam godaan mendewakan pemikiran menurut versinya sendiri andai tidak cukup dilandasi pemahaman mendalam atas hakikat berilmu serta teladan dalam interaksi pendidikan.

MENDIDIK ANAK DENGAN AKHLAK

Ust. Tukin, S.Pd.Ust. Tukin, S.Pd.

MENDIDIK ANAK DENGAN AKHLAK

Oleh : Tukin, S.Pd.
(Kepala SD Al Falah Surabaya)

“Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah dan orang tualah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi” (al Hadist).

Seorang anak ibarat kertas putih, apakah kertas itu dicoret dengan tinta warna merah, abu-abu, hitam pekat atau tetap dijaga putih selamanya, semua bergantung pada pola pendidikan yang diberikan oleh orang tua.

Pada dasarnya semua orang tua menginginkan putra-putrinya sukses, baik di dunia terlebih di Akhirat kelak. Bahkan seorang perampok sekalipun tetap punya keinginan agar anaknya jadi anak yang baik dan sukses tidak seperti dirinya. Pendidikan yang baik jualah yang dapat mengantarkan putra-putri kita menjadi generasi yang sukses menatap masa depan. Di samping kecerdasan akademik yang baik, pola pembinaan akidah akhlak harus senantiasa kita berikan kepada mereka. Pola pembinaan ini kita lakukan terus-menerus dan berkelanjutan. Sumber pembinaan utama akhlak terdapat dalam Alquran dan As Sunnah. Ketika sayidah Aisah ditanya salah satu sahabat tentang akhlak Rosululloh, beliau menjawab bahwa akhlak Rosululloh adalah Alquran. Ada banyak pembelajaran akhlak yang terdapat dalam Alquran. Kisah Luqmanul Hakim dapat menjadi salah satu teladan bagi kita tentang pola pembinaan akhlak anak. Kisah tersebut terdapat dalam surah Al Luqman 13-19 yang antara lain berisi:

REVITALISASI PENDIDIKAN AKHLAK

Drs. Sodikin, M.Pd.Drs. Sodikin, M.Pd.

REVITALISASI PENDIDIKAN AKHLAK

Oleh: Drs. Sodikin, M.Pd.
Direktur Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya

Ketika menjadi wakil kesiswaan SMP Al Falah Deltasari, ada beberapa siswa menemui saya. Dengan wajah yang penuh harap, mereka menyampaikan uneg-uneg-nya,” Ustad boleh saya membuat kandang ayam di belakang sekolah?” Begitu permintaan Toni yang mewakili teman-temannya setelah mereka berdiri di depan meja wakasek kesiswaan. Mendapat permintaan tersebut, saya ingin tahu lebih jauh latar belakang ide pembuatan kandang ini. “Loh, buat apa kandang ayam, mau beternak ayam?” Tanya saya yang masih heran dengan ide yang agak aneh, waktu itu. “Ustad kami mendapat tugas membuat alat penetas telur, dan alat kami sudah bekerja, beberapa hari lagi telur-telur itu akan menetas.” Jawab Toni dengan meyakinkan. “Dan setelah itu kami punya anak-anak ayam, kan perlu tempat Ustad!” imbuh teman-temannya dengan semangat. Mendengar pertanyaan ini, saya teringat 3 minggu sebelumnya, mereka memang sibuk di workshop PTD (Pendidikan Teknologi Dasar) untuk membuat alat penetas telur tugas dari Ustad Bakri selaku guru fisika saat itu.

Sekolah Pilihan

Abdillah F HasanAbdillah F Hasan

Sekolah Pilihan

Oleh : Abdillah F Hasan (Pustakawan SMP Al Falah Deltasari, Penulis buku best seller Setengah Syukur Setengah Sabar)

Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menggali, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi peserta didiknya. Metode ajarnya tidak menempatkan siswa sebagai objek, tetapi menjadi subjek sehingga tercipta suasana menyenangkan dan menggembirakan. Orang tua pasti berharap sekolah yang menjadi pilihan anaknya memuaskan. Dalam arti, sekolah tersebut mampu mengembangkan segenap potensi atau kemampuan anak secara optimal.

Motivasi, Penting tapi Sering Terlewati

Ustd. Izzaty LatifiyahUstd. Izzaty Latifiyah

Motivasi, Penting tapi Sering Terlewati

Oleh : Izzaty Latifiyah, S.Pd. (Wakil Kepala SD Al Falah Surabaya)

Tentu masih terekam di benak kita cerita tentang tokoh-tokoh berikut ini. Thomas Alfa Edison, salah satunya. Sewaktu masih sekolah dianggap tidak mampu untuk belajar dengan baik. Bahkan pernah dikeluarkan dari ruang kelas. Einstein, juga dianggap sang guru sebagai anak pemalas. Dia juga diramal tidak bakal sukses dalam hidup. Ataupun juga Darwin. Tokoh satu ini juga sering dimarahi guru karena lebih suka naik pohon dan mengamati makhluk sekitar dibanding belajar di ruang kelas.


1 2 3 4 7 8

Pengunjung

684451

Ihwal Alfalahsby

Lembaga Pendidikan Yayasan Masjid Al Falah Surabaya bertujuan mendidik murid agar menjadi Pribadi yang Berahlak Mulia dan Berprestasi

Media Sosial


@ 2016 Lembaga Pendidikan Yayasan Masjid Al Falah Surabaya