Ketika Shalat Tidak Senikmat Surga

### Ketika Shalat Tidak Senikmat Surga

Oleh: Abdillah F Hasan
*26/11/08 13:30*

Mengerjakan shalat memang amat mudah jika merujuk pada syarat dan rukunnya saja, namun yang tersulit adalah bagaimana kehadiran pikiran dan hati dalam shalat itu sendiri. Kadang ketika ruku’ mensucikan nama Allah, namun pikiran menjelajah ke ruang tak bertepi, ingat hutang, sinetron, kerjaan kantor dsb.

Bahkan kalau shalat subuh, kita masih melamunkan mimpi mimpi indah setelah tidur. Padahal pada saat shalat kita sedang berhadapan dengan Tuhan semesta alam. Jika keadaan ini berlarut, tanpa kita sadari telah menjadi penyakit kronis yang membuat kualitas ibadah kita rusak. Kita tidak lagi merasakan bagaimana nikmatnya beribadah kepada Allah sehingga perlu introspeksi diri, mungkinkah ada kesalahan telah kita perbuat.

Abu Yazid Al-Busthami telah beribadah kepada Allah SWT bertahun-tahun lamanya, namun tidak dirasakannya kelezatan ibadat itu sedikit pun. Kemudian ia menemui ibunya dan bertanya, “Wahai ibuku, aku tidak pernah merasakan kelezatan ibadah yang telah aku kerjakan selama ini. Coba ibu renungkan, pernahkah ibu memakan sesuatu barang yang haram ketika ibu sedang mengandungku atau ketika sedang menyusuiku?”

Ibunya berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Wahai anakku, ketika engkau sedang berada di dalam kandungan, ibu pernah naik ke atas suatu teras, di situ ibu melihat sebuah keranjang berisi keju. Lalu timbullah selera ibu untuk mencicipi. Kemudian ibu ambil sedikit tanpa izin pemiliknya.”

Mendengar penjelasan ibunya itu, Abu Yazid berkata, “Tidak lain, tentu inilah biang keladinya. Pergilah ibu kepada pemiliknya dan beritahukan tentang hal itu.”

Kemudian ibunya pergi menemui pemilik keju dan memberitahukan apa yang telah terjadi. Setelah mendapatkan maaf dari si pemilik keju, barulah Abu Yazid merasakan kelezatan beribadah.

Memakan makanan haram makin mudah di zaman materislistis saat ini. Dalam arti, uang yang kita pakai untuk membeli makanan tersebut diperoleh dengan jalan tidak halal, manipulasi atau korupsi. Inilah yang menjadikan ibadah kita tidak pernah senikmat yang dilakukan oleh para ahli takwa dan orang orang saleh. Bagaimana Allah akan menancapkan hidayah sementara jiwa berlumur dengan harta haram! Harta yang Allah haramkan pasti akan merusak jiwa pemiliknya. Rasulullah menceritakan tentang seorang musafir yang berdoa kepada Allah, tetapi doanya ditolak. Sabdanya, “Makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, pakaiannya adalah haram dan dia disuapkan dengan sesuatu yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?”

Fenomena ketidak khusyu’an shalat yang kita alami selama ini, bukan semata mata tidak tahu ilmunya shalat. Sejak dibangku sekolah kita sudah kenyang dengan pelajaran shalat yang diajarakan oleh guru bahkan ulama. Diawali dengan takbiratul ikhram hingga salam, kita paham hal itu. Bahkan anak anak di tingkat Taman Kanak Kanak sudah diajarkan bagaimana fiqih shalat yang benar. Setiap hari kita saksikan masjid dan mushollah penuh dipenuhi jamaah.

Namun mengapa kriminalistas, kemaksiatan, keculasan masih menjadi menu yang tersaji hampir tiap hari? Padahal orang yang benar shalatnya pasti membawa pengaruh positif dalam hidupnya, mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Namun harapan ini masih menjadi retorika di kalangan umat muslim, belum realita (QS Al Ankabuut: 45)

Jadi, sebanyak apa pun ibadah yang kita lakukan selama ini jika keculasan mencari harta masih menjadi ‘pekerjaan’ yang tidak bisa ditinggalkan, senang makanan haram, gemar memanipulasi, jangan harap akan memberikan pengaruh positif terhadap jiwa kita. Kenikmatan saat menjalankan ritual ibadah pun sulit terealisasi. Hati akan kebal terhadap bias bias cahaya ilahi. Bisa jadi, tanpa sadar, selama ini, kita seperti orang yang membersihkan badan bukan dengan air yang mensucikan tapi dengan air comberan penuh najis.

*”Dan sesungguhnya kamu mencampur adukkan yang hak dan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.”* (QS Al Baqarah: 42)