Membangun Peradaban Menulis Para Siswa

Membangun Peradaban Menulis Para Siswa

Oleh: Abdillah F Hasan

Salah satu tujuan dari dalam proses belajar mengajar dalam ruang dunia pendidikan adalah adanya aspek pengembangan linguistik yang diaplikasikan melalui aktivitas tulis menulis. Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada satupun lembaga pendidikan formal (di LPF sekalipun) yang mengklaim bahwa institusinya lepas dari aktivitas itu (baca-tulis-menulis). Bahkan dalam sejumlah sekolah, menulis menjadi bagian dari trade mark dalam “menjual diri” agar sekolahnya diminati masyarakat.

Di Surabaya ada sekolah AWS (Akademi Wartawan Surabaya) atau Surabaya Media School (SMS). Di Jakarya dan kota metropolitan lainnya, institusi formal yang berbasis informasi ibarat virus yang menggejala bahkan menjadi tren sosial yang layak untuk kembangkan. Di luar negeri, tidak tanggung-tanggung, di Inggris ada sekolah –sekolah berkelas yang mengembangkan seni kepenulisan yang diajarkan oleh wartawan, sastrawan dan penulis-penulis terkenal dengan promosi melalui media massa populer dengan biaya ratusan juta rupiah.

Melihat fenomena tersebut, satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa aktivitas tulis menulis di tengah perkembangan dunia pendidikan khususnya dan perdaban dunia pada umumnya telah menjadi isu strategis yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Artinya, eksistensinya cukup serius dan penting dalam pengembangan potensi diri bagi para peserta didik.

Penerbit Mizan, belakangan ini, marak menerbitkan karya sastra yang ditulis siswa umur belia. Ada Faiz, penulis Puisi Guru Matahari yang masih berumur 8 tahun. May Si Kupu Kupu, yang ditulis Dena, Let’s Bike Cookies dan Kado untuk Ummi oleh Izzati,–yang semuanya adalah maha karya siswa yang masih SD. Pembaca, pasti berasumsi, bahwa dengan tingkat pola pikir yang masih “ranum” siswa siswa itu mampu menghasilkan sebuah karya tulis yang tidak semua orang –terutama yang selevel dengan usianya mampu melakukan hal semacam itu.

Tentu saja peningkatan mutu penulisan di level anak anak bukan sekedar masalah ekonomi atau popularitas tapi lebih dari itu, bahwa aktivitas tulis menulis berupa pengungkapan ide-ide dan gagasan adalah mutlak menjadi tuntutan peradaban zaman yang semakin kompetitif.

Memang, sering muncul pertanyaan, bagaimana mengawali kegiatan menulis ? Dalam berbagai diskusi, seminar, bedah buku dan sarana penunjang dalam kegiatan penulisan, tidak ada klaim atau metode khusus bagaimana agar setiap siswa dapat melakukan kegiatan menulis secara baik kecuali berprinsip pada usaha untuk banyak memberikan motivasi.

Setiap anak cerdas
Thomas Amstrong dalam Discovering and Encouraging your child’s multiple intelligences, meyakini bahwa setiap anak adalah cerdas -dalam konteks, bahwa mereka memiliki potensi- yang bila dieksploitasi secara benar dapat menimbulkan suatu power yang membangun optimalisasi pribadinya. Berkenaan dengan itu, Robyn Allan, seorang CEO British Columbia menegaskan bahwa kegagalan terbesar adalah apabila kita tidak pernah mencoba. Setiap anak yang cerdas namun tidak dioptimalkan potensinya karena dia ( si anak) tidak pernah berbuat sesuatu untuk mencobanya, maka dia ( anak) telah kehilangan bagian dari potensi dasarnya.

Kesimpulannya bahwa setiap anak adalah pribadi yang mampu menyampaikan gagasan dan ide idenya melalui tulisan tulisan, namun karena motor—penggerak– (terutama orang tua dan guru) tidak banyak memberi ruang gagasan untuk mencoba, maka hasilnya pun tidak nampak nyata.

Seorang mantan menteri pendidikan Amerika Serikat, William Bennet, pernah memberi komentar, bahwa kurang dari 40 persen siswa SMU di Amerika dapat membaca surat kabar dengan baik, hanya 2 persen yang dapat menulis dengan jelas. Sebagai langkah antisispasi, dewasa ini ada kecenderungan di pendidikan tinggi di Amerika mulai ramai merekrut para penulis, wartawan, novelis, kolumnis untuk mengajar siswa agar mampu menulis dengan baik.

Memang kita bukan Amerika, dengan konsep instan -yang hanya untuk meningkatkan kreativitas menulis saja- harus menyewa (merekrut) penulis populer dengan biaya tinggi. Namun kita harus mencari langkah lain yang dirasa efektif untuk itu.Salah satu metode yang cukup populer yang mengilhami para penulis di kalangan pelajar adalah konsep;Do first or just do it, lakukan saja, mengalir seperti air. Artinya membiasan diri untuk menulis (positif) apa yang dilihat maupun didengar, mulai bangun pagi hingga tidur lagi. Mengawalinya bisa melalui buku harian atau diary atau sekedar catatan kecil sebagai pengingat.

Misalnya di hari A melihat kejadian yang mengejutkan. Atau mendapat hadiah istimewa karena menang lomba tertentu. Bila catatan catatan sederhana tersebut diakumulasi, berapa banyak tulisan yang telah dihasilkan? Kebiasaan ini jika telah berlangsung kontinyu akan menggerakkan power yang bernama motivasi. Motivasi menulis ini selanjutnya bisa berkembang menjadi kesenangan (kegiatan) positif yang ujung ujungnya adalah munculnya ketrampilan (skill) untuk menulis.

Tentu saja dukungan komunitas terdekat (keluarga) dan sekolah adalah sesuatu yang inheren dan tidak mungkin berjalan apa adanya. Orang tua berkewajiban mewadahi aspirasi dunia menulis anak melalui aktivitas positif yang ada dilingkungan keluarga. Sedangkan sekolah juga memotivasi siswa dalam mengungkapan gagasan atau ide kreatifnya secara optimal melalui kegiatan yang berkaitan dengan dunia tulis menulis.