Menyimak Perjalanan Haji Darat Kang Bahri

Kang Bahri (tengah) bersama Guru SMP Al FalahKang Bahri (tengah) bersama Guru SMP Al Falah

Menyimak Perjalanan Haji Darat Kang Bahri

“… Melaksanakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. ( QS. Ali Imran : 97 ).

Jadi ingat cerita mbah-mbah buyut kita dulu. Kalau ingin menunaikan ibadah haji harus melakukan perjalanan yang lama, berbulan-bulan naik kapal laut. Sekarang semangat haji ini ditiru oleh Kang Bahri, berangkat haji lewat jalur darat. Ketika ditanya mengapa melakukan haji lewat jalur darat, padahal alat tranportasi udara sudah canggih, beliau menjawab, “Saya berangkat haji lewat jalur darat, tak lebih hanya ingin menghibur masyarakat yang mau berangkat haji tanpa mendapat waiting list 10 tahun. Bahwa masih ada alternatif haji lewat jalur darat.”

Cerita itu didapatkan SMP Al Falah saat akhir semester pertama atau pasca ujian akhir semester SMP Al Falah. Saat itu SMP Al Falah mengundang Kang Bahri Haji Darat. Acara bersama Kang Bahri ini mendapat sambutan hangat dan antusias dari para siswa. Dalam kesempatan itu Kang Bahri banyak bercerita tentang perjalanan di berbagai negara yang dilalui, yang dimulai pada Selasa, 6 September 2011 dari Masjid Ampel, Surabaya, Indonesia, hingga Mekah, Arab Saudi, dengan melintasi 12 negara dan seribu lebih kota setingkat kabupaten.

Hal yang menarik dalam pengalaman Kang Bahri ini adalah dalam mengurus visa masuk negara-negara yang dilalui. Tidak semua negara memberikan visa masuk dengan mudah. Ada yang menaruh kecurigaan terhadap warga asing. Ada juga yang langsung dengan mudah memberikan visa, karena mereka kesulitan komunikasi dengan bahasa asing.

Seberapa lama waktu untuk menunggu visa tidak menentu. Waktu luang banyak dihabiskan di penginapan dan menulis berita serta ngobrol bersama mahasiswa Indonesia yang sedang studi. Kadang-kadang muncul rasa jenuh dan bosan, karena ada suatu negara yang dalam waktu 15 hari baru menurunkan visa. Untuk mengusir rasa jenuh dan bosan digunakanlah waktu untuk mencuci pakaian, banyak berdoa, dan salat tahajud untuk meminta pertolongan Allah SWT.

Ada negara yang tidak bisa dilalui, sehingga harus putar balik ganti haluan dengan naik ojek lebih dari 5 jam dalam kegelapan malam. Semua ini bisa memunculkan rasa stres, gelisah, sedih dan rasa putus asa. “Untungnya temen-temen yang ada di Indonesia dan keluarga selalu memberikan semangat dengan sms, telepon, dan doa-doa, ujarnya.”

Saat bercerita, ditampilkan pula foto-foto perjalanan haji darat yang menambah rasa haru dan seru. “Apa rahasia terbesar untuk bisa melakukan perjalanan haji darat ini?” tanya Abi, siswa kelas IX-1. “Pertama, kita harus niat ikhlas melaksanakan haji ini untuk Allah, sehingga semua kesulitan, hambatan, dan tantangan terasa nikmat. Saya orangnya suka petualang, akan lebih membantu kalau kita bisa menguasai bahasa asing Arab dan Inggris,” jawab Kang Bahri.

Ustadz Hidayat pun tidak kalah antusias untuk bertanya, “Apa masih mungkin kita berangkat haji dengan biaya yang lebih murah apabila lewat jalur darat?” “Masih sangat mungkin Pak, misalnya kita menjadi mahasiswa di Mesir, Pakistan, Sudan, atau negara yang berdekatan dengan Mekah. Mereka mahasiswa sudah biasa berangkat haji dan umrah lewat jalur darat. Atau, kita dari Indonesia naik pesawat terus menempuh jalur darat dari Mesir,” ujarnya.

Tidak terasa hampir tiga jam anak-anak bersama Kang Bahri untuk menyimak cerita tentang perjalanan haji darat. Pengalaman ini bisa menguatkan niat untuk bisa berangkat haji serta belajar ikhlas. Kita harus yakin, Allah SWT yang akan memudahkan. Jika Allah SWT sudah memudahkan dan menolong, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghalangi dan menggagalkan. (Indarto)