Refleksi Peringatan Hari Ibu

Kepala SD Al Falah.Kepala SD Al Falah.
###Menjaga Fungsi Ibu dalam Keluarga

Kepada anak cucunya yang masih kecil, sambil guyonan, dulu para orang tua desa sering bilang, anak yang berani sama ibu bisa kuwalat. Konon kuwalat diartikan sebagai kepala njungkir ke bawah mirip jambu mente. Terjemahan sekarang mungkin identik dengan menderita, sengsara, atau durhaka.

Walaupun terkesan jadul (kuno), pada guyonan itu sesungguhnya ada penandasan pendidikan dan nasihat yang amat dalam. Betapa sakralnya seorang ibu dalam sebuah keluarga. Betapa pentingnya seorang anak untuk hormat, patuh, memuliakan, dan memohon restunya.

Anak mana yang tak rindu dengan lezatnya dongeng dari sang ibu. Betapa hangat dan nyamannya seorang bocah kecil dalam dekapannya. Disandarkannya kepala si kecil di bahunya yang lembut, yang tak tergantikan oleh alas beludru atau sutera semahal apa saja. Saat anaknya kecil sang ibu tak kenal tidur panjang. Dalam kondisi melawan sakit pun ibu masih berusaha tersenyum buat menghibur anak-anaknya. Pendek kata, demi si buah hati jantung pun seakan diberikan.

Jasa dan kemuliaan ibu memang benar-benar nyata dan tak terbandingkan dengan apa pun. Termasuk bila dibandingkan dengan bapak. Apalagi dengan jasa pejabat, politisi, atau seribu janji para caleg yang marak terpampang seperti sekarang.

Pada seorang ibu tersandang lekat fungsi sebagai mata hati keluarga. Ibulah yang biasanya tekun dan luwes dalam mendidik anaknya. Dulu jarang ada asi yang digantikan dengan susu formula. Sehingga, generasi ini akan kehilangan besar bila ganasnya dinamika kota sampai memancung fungsi ideal ibu.

Layaklah bila dalam pepatah dikatakan, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Surga di bawah telapak kaki ibu. Wanita ibarat tiang negara, dan seterusnya. Bahkan, enam belas abad silam, jauh sebelum banyak pakar etika, saat ditanya sama seorang sahabat tentang siapa orang yang pertama harus dihormati, baginda Rasul menjawab ibumu, ibumu, dan ibumu, lalu bapakmu. Kelugasan ulang jawaban itu menandastegaskan pula bahwa kemuliaan seorang ibu memang bukan mitos belaka.

Sementara beberapa kejadian dalam berita sempat menodai jasa besar dan kemuliaan ibu yang telah lama bersenyawa dalam dirinya. Kebesaran dan kesakralan sang ibu seakan terkoyak. Di kota ini ada ibu yang tega membuang bayinya (Jawa Pos, 10 dan 12 Desember 2008). Karena pailit seorang ibu bunuh diri bersama anaknya. Trafficking atau jual beli perempuan masih marak. ABG kita yang notabene juga calon ibu mulai sadis mengaborsi janin akibat pergaulan bebasnya. Malahan di Jakarta ada istri membunuh dan memutilasi suaminya.

Seperti tak terhiraukan akan adanya resiko penyusutan fungsi ibu dalam keluarga. Apalagi di metropolis ini banyak sekali dalih emansipasi. Banyak aktivis gerakan perempuan yang seakan-akan mengajari Tuhan. Sudah kebablasan, ada tuntutan untuk mempersamakan sepenuhnya wanita dengan pria.

Akibatnya, karena tuntutan ekonomi, menjadi hal biasa bila banyak ibu yang menjadi TKW buruh di luar negeri. Makin banyak ibu yang berlomba untuk menjadi wanita karir dan tulang punggung ekonomi keluarga. Makin banyak pula yang tidak sempat mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Sementara sang istri jadi wanita karir, menjadi TKW buruh ke luar negeri, tak sedikit pula suami yang sekadar jadi penjaga rumah saja. Terjadi jungkir balik antara fungsi ibu dan fungsi bapak dalam keluarga.

Di kota sebesar Surabaya, lahirlah sektor-sektor jasa informal sekaligus sebagai simbol keterpaksaan atau penderitaan tak kentara. Misalnya pembantu rumah tangga, tukang cuci atau setrika, tukang pijat keliling, tukang tambal ban wanita, kuli bangunan wanita, dan sebagainya. Bila itu yang terjadi, tidakkah fungsi mulia seorang ibu dalam keluarga mulai terlindas oleh dinamika kota?

Karena itu, di metropolis ini sudah saatnya diperlukan revitalisasi fungsi ibu dalam keluarga. Ibu-ibu seharusnya makin diberdayakan, fungsinya diselaraskan, dan lebih dihormati. Seorang ibu tetap sebagai sumber teladan, kasih sayang, serta rujukan utama akhlak bagi anak-anaknya.

Kalau pun karena tugas harus sering meninggalkan rumah, para ibu yang baik tetap menjaga intensitas komunikasi dengan anak-anaknya. Dalam konteks itu ukuran perhatian terhadap anak bukan sekadar berapa lama dalam sehari sang ibu dapat bertemu, tetapi pada seberapa kualitas komunikasi itu. Intensitas perlu dijaga.

Revitalisasai fungsi ibu dalam keluarga metropolis dapat diwujudkan dalam bentuk pengambilan kembali peran yang barangkali selama ini terlanjur dipasrahkan kepada pihak lain. Misalnya pendidikan anak dipasrahkan bongkokan kepada sekolah. Segala kebutuhan si anak sepenuhnya dilayani oleh pembantu. Orang tua seakan-akan tua cukup membiayai saja.

Memang kaum ibu diciptakan dari tulang rusuk yang pipih, yang secara fisik tidak setangguh tulang betis atau lengan. Namun, di balik tulang rusuk itu ada organ yang paling vital penanda kehidupan. Jantung namanya.

Ibu adalah salah satu pilar ketahanan keluarga dan masyarakat. Para ibu juga menjadi pilar kehormatan bangsa. Karena itu jangan sampai pilar-pilar kehormatan itu menjadi rapuh. Merefleksi peringatan hari ibu, bila fungsi ibu mulai terkoyak, mudah-mudahan terajut kembali. Ibu, pulanglah. Jasa besar dan cinta kasihmu tak mungkin tergantikan. (Jidi, Kepala SD Al Falah Surabaya).