Rindu Rasul

Abdillah F HasanAbdillah F Hasan

Refleksi maulid Nabi Saw, 12 Rabiul awwal

Rindu Rasul

Oleh Abdillah F Hasan

Kapan rasulullah Saw lahir? ketika pertanyaan itu meluncur, serempak para siswa menjawab tegas,“ 12 rabiul awwal tahun gajah.” Disebut tahun gajah karena ada peristiwa maha hebat yang dilakukan pasukan Abrahah untuk menghancurkan ka’bah. Tapi Allah justru yang menghancurkannya dengan perantara burung ababil yang membawa batu dari api neraka. (QS al Fiil )

Selain invasi pasukan gajah, ketika Rasulullah SAW lahir, banyak kejadian aneh di muka bumi. Dintaranya sumber mata air yang mengering dapat memancar kembali mengeluarkan air. Saat beliau keluar dari kandungan Aminah, ibunya, tidak merasakan sakit sebagaimana wanita yang melahirkan pada umumnya. Setan tidak lagi mampu mendengar pembicaraan malaikat di langit. Bintang bintang Zurah merendah turun menghiasi lembah lembah di tanah haram dan gunung gunungnya. Dalam kitab Maulid al Diba’I, kelahiran Rasulullah SAW telah menggoncangkan Arsy. Langit bercahaya, terdengar gemuruh malaikat bertahlil, bertahmid dan beristighfar. Itulah diantara tanda kenabian beliau.

Ketika menginjak dewasa, beliau adalah pekerja keras yang jujur sehingga penduduk Mekkah menjulukinya gelar al Amin. Usia 40 tahun adalah turunnya wahyu pertama kemudian setapak demi stapak beliau berdakwah kepada orang di sekelilingnya. Banyak perlakuan tidak manusiawi yang diterima dalam mengemban risalah Islam. Namun dengan segenap upaya dan rahmat Allah, hanya dalam tempo 23 tahun, beliau berhasil menyebarkan Islam diseluruh jazirah Arabia dan belahan dunia lainnya.

Sejarawan barat Michael H Hart, setelah membuat penelitian, dalam bukunya, The Hunderds, a Ranking of Most influenstial person in history, Newyork, 1978, tanpa ragu menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai the number one di atas tokoh dunia lainnya, komentarnya; “A Striking example of this is may ranking Muhammad higher than others, in large part, because of my believe that Muhammad had a much greather personal influence on the formulations of the Moslem “

Tak terhitung jasa beliau menyelamatkan manusia yang semula bersikap tribal dalam tradisi jahiliyah dan hidup dalam kegelapan menjadi umat yang beriman dan hidup sakinah. Seandainya kita telah mencapai ketenangan jiwa dan kebahagiaan lahir batin dalam Islam, semuanya itu tak lain berkat jasa rasulullah SAW yang memberi petunjuk kepada kita yang disampaikan melalui sahabat hingga ulama jaman ini.

Dalam hadupnya, Nabi mulia ini selalu berada dalam fase perjuangan. Mulai dari kelahiran yatim, ditinggal wafat sang ibu ketika anak anak, dimusuhi tetangga bahkan kerabatnya saat berdakwah. Semenjak menjadi rasul, tekanan dan penganiayaan terus datang bertubi tubi. Namun baginya, semua itu adalah rahmat. “ Seorang mukmin bila diberi nikmat akan bersyukur, jika diberi cobaan dia bersabar. Keduanya mengandung keberkahan,” begitu sabdanya. Ini adalah prinsip beliau yang amat tinggi dalam menyelami arti hidup.

Nabi suci ini, tidak pernah dalam hidupnya merasakan kemewahan, kekayaan dan gelimang harta. Sementara terbentang dihadapannya, gunung gunung dan bukit bukit Arabia merelakan diri menjadi lantakan emas. Apa mungkin seorang manusia mulia yang menggenggam kekuasaan terbentang dari barat dan timur—bahkan— tidak pernah merasakan bagaimana lezatnya makanan selama tiga hari berturut turut ?

Tidak pernah sekejabpun Nabi saw mengeluh dalam hidupnya. Tulus, tidak pamrih dan selalu dalam ketabahan. Seorang tetangga sering meludahi setiap beliau akan pergi ke masjid. Namun beliau tidak marah apalagi dendam. Ketika si peludah sakit, Nabi saw adalah orang pertama yang menjenguknya. Sungguh, budi pekerti yang amat mulia. Bayangkan, jika hal itu terjadi pada kita ! Barangkali serapahan dan cacian yang kita keluarkan.

Ketika hijrah ke Thaif karena suasana Makkah yang tidak kondusif, bukan sambutan meriah dengan red carpet terbentang bak selebriti yang haus pujian. Namun hujan batu dan lemparan kotoran membekap wajah mulia beliau. Sungguh penduduk disana telah menghinakan beliau. Namun apa yang terucap dari tuturnya ? “ Ya Allah jangan engkau hukum mereka karena mereka tidak tahu……..” Adakah diantara kita yang mampu melakukan hal semacam ini ?

Keagungan itulah yang membuat Islam mampu menembus tabir penguasaan kaisar dunia barat dan timur melebih apa yang pernah dialami sejarah peradaban manapun. Penguasa Eropa pada abad 8, Karel Agung. Penguasa Mongol, Jengis Khan, abad 12. Kaisar Mogul terbesar, Akbar, yang bertahta di abad 16. Napoleon Bonaparte, penguasa Prancis abad 18–sejatinya hanyalah kaisar kiasar kelas teri yang melakukan hegemoni pada teritorial yang sangat terbatas.

Namun baginda Rasulullah saw dengan pekerti dan jiwanya yang luhur, tanpa dendam, tanpa caci maki dan pemaksaan, mampu membawa Islam melewati batas batas hingga sepertiga dunia. Sejarah mencatat bahwa beliaulah satu satunya manusia yang mampu membawa transformasi humanisme, dari kondisi krisis hingga mengalami kejayaan.

Keagungan baginda diakui banyak sarjana non Islam, semisal George Bernard Shaw, memanggilnya, “manusia yang menakjubkan” dan “penyelamat kemanusiaan.” Katanya lagi, “Jika orang seperti Muhammad memegang tugas sebagai ditaktor di zaman moden, dia akan berhasil mengurai masalah-masalah dengan cara aman dan sejahtera ……..” Jangankan manusia bahkan Tuhan pun kagum. Sebagai luapan kemuliaan, keagungan, serta kecintaanNya, Allah dan para malaikat serta orang orang beriman bersyukur dengan bershalawat kepada beliau.

“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al Ahzab 56). Sebagai umatnya, ketaatan kepada rasul tentu tidak hanya dengan membaca dan mendengar kisah kisah sejarah beliau. Namun lebih dari itu, cinta kepada rasulullah harus dibuktikan dengan menteladani pribadi beliau dalam kehidupan nyata. Ada orang butuh pertolongan sebisa mungkin ditolong. Mampu menjaga lisan dan menghormati orang lain. Pemaaf, tidak angkuh. Tidak kikir, pemurah. Tidak dengki, amanah dalam jabatan. Rendah hati, tidak sombong. Jika tertimpa ujian bersabar. Jika diberi nikmat bersyukur.

Ini memang berat tapi itulah konsekuensi bagi seorang muslim yang membenamkan konsep, “ Atiullah wa atiurrasul,” dalam sanubarinya. Dan disini, selayaknya jika pada setiap waktu kita kumandangkan bisikan kalbu akan keteladanan rasul dalam untaian kata mutiara, “ Ya rasul, kami sungguh rindu ingin berjumpa dengan mu……”

Ya Allah, limpahkan kemuliaan, kesejahteraan, barakah dan salam kepada yang mulia, Nabi Muhammad Saw dan ahlinya, sebanyak bilangan yang engkau kehendaki.
Ya Rabb, kerinduan kami tak tertahankan, izinkan kami bersamanya di surga kelak.