Tetap Bersedekah

Bersedekah Meskipun Seribu Rupiah

Bersedekah Meskipun Seribu

Secara umum sedekah diartikan bentuk solidaritas dengan memberikan sebagian kepemilikan (harta benda) kepada orang lain yang berhak atau lembaga, untuk kepentingan sosial maupun agama dengan mengharap ridha Allah semata. Dalam pengertian ini, Nabi menganjurkan agar bersedekah ketika masih sehat, masih amat sayang kepada harta benda, masih takut miskin dan masih mengharapkan kekayaan. Jangan menunda nunda sehingga apabila ruh sudah sampai ditenggorokan lalu berwasiat kepada ahli warisnya (HR Bukhari dan Muslim).

Tepat bila harta menjadi perbincangan serius dalam Islam, bukan semata mata membatasi kepemilikan orang perorang, namun lebih pada faktor daya guna. Apa esensi harta dalam kehidupan itu sebenarnya. Dalam prespektif mana harta tersebut harus didapat dan dimanfaatkan. Sesungguhnya, harta adalah titipan, bukan kepemilikan personal yang mutlak dan bersifat absolut, yang semuanya akan dimintakan pertanggunganjawab di akhirat kelak. Mulai dari sumber cara mendapatkan hingga pembelanjaannya.

Rasulullah Muhammad Saw adalah orang yang paling pemurah diantara manusia yang paling pemurah di muka bumi. Tidak ada orang yang melebihi dalam setiap amal beliau di alam raya ini. Beliau juga dikenal amat berjiwa sosial di lingkungannya. Tidak cukup itu, beliau juga menjadi simbol kedermawanan yang hingga detik ini ditiru umat manusia.

Itulah yang melatarbelakangi SMP Al Falah mengadakan lomba infak yang diadakan di setiap bulan Ramadhan. Lomba ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Semua kelas all out menunjukkan kebolehannya membuat kotak infak yang unik dan menarik. “Insya Allah kegiatan serupa akan kita teruskan pada bulan Ramadhan yang akan datang,”ujar salah seorang ustadz.

Dengan format berbagai bentuk, kotak infak tidak lagi monoton tapi lebih memberi nuansa seni. Ada juga yang berbentuk jembatan, rumah, pekarangan, beduk maupun masjid. Lomba ini juga mendidik komunitas sekolah agar gemar menyisihkan sebagaian hartanya di jalan Allah. Dengan kesediaan mengeluarkan zakat, memberikan infak dan shadaqah menurut ‎kemampuannya.

Di zaman Nabi Saw, banyak konglomerat yangg gemar bersedekah seperti Abu Bakar, Usman, Thalhah dan Abdurrahman bin Auf. Bahkan Ali Zainal Abidin, seorang keturunan Nabi Saw gembira memikul gandum di malam hari dan membagikannya kepada fakir miskin. Ketika ada orang yang datang minta tolong, ia berkata, “Selamat datang wahai orang yang berkenan memikul bekalku untuk hari akhirat.”

Ibnu Mas’ud pernah bercerita,“Ketika Rasulullah Saw memberitahu kami untuk bersedekah, maka beberapa orang diantara kami datang ke pasar menawarkan tenaganya. Mereka membawa barang-barang yang berat di punggung dan pulang dengan membawa satu mud biji bijian yang kemudian disedekahkan.”

Nabi Saw sangat menganjurkan perilaku ini karena banyak hikmahnya bahkan untuk menolak siksa neraka, meski hanya seribu rupiah. Sabdanya, “Siapa yang sanggup mendinding dirinya dari api neraka. Walaupun dengan (bersedekah) sebelah buah kurma, maka hendaklah dia lakukan (segera). (HR Muslim).

Semoga kebiasan bersedekah ini bukan hanya semarak pada saat diadakan lomba saja tapi juga menjadi suatu budaya yang membumi di kalangan para siswa, guru dan komunitas sekolah lainnya. Amin.(abdillah)